Zakat Untuk Orang Tua

  • Post published:21 April 2014

Zakat Untuk Orangtua

TANYA :
Assalamu’alaikum wr, wb,
Bolehkah  kategori  asnaf  fakir  dan  miskin dianalogikan  dari  pendapatan  perkapita keluarga yang kurang dari pendapatan perkapita
keluarga wajib zakat ? Bagaimana seharusnya ?
Terimakasih.

 

JAWAB :
Sebelum  menjawab  pertanyaan Saudara,   perlu  dijelaskan  lebih  dulu  tentang prinsip-prinsip  zakat  itu  sendiri.  Sebagaimana diketahui,  kewajiban  zakat  (ftrah  maupun mal  dan  bahkan  profesi).  Pada  dasarnya  dan dalam  kenyataannya  adalah  bersifat  individu (perorangan)  sehingga  kewajibannya  bersifat fardu  ain.  Menurut  mayoritas  ulama  fkih (jumhur  al-fuqaha’),  kewajiban  zakat  pada dasarnya dibebankan kepada setap muslim yang baligh dan akil (berakal sehat) dan bahkan juga  terhadap   anak  kecil  dan  orang  gila  (al-shaghir wa-al-majnun);  meskipun  menurut  sebagian kecil (sedikit) ulama ada yang tdak mewajibkan zakat  bagi  harta  anak  kecil  dan  orang  gila karena  masing-masing  belum  baligh  dan  tdak berakal. Sedangkan terhadap harta milik umum, menurut kebanyakan ulama tdak dikenai wajib zakat,  meskipun  menurut  sedikit  ulama  –  di antaranya al-Imam Muhammad, pengikut Imam Abu Hanifah — ada yang menghukumkan wajib zakat bagi harta umum (al-mal al-‘am).
Dalam pada itu, ada pula persyaratan zakat  yang  salah  satunya  –  sebagaimana dikemukakan sebagian pakar di antaranya  Rafq Yunus  al-Mashri.  Yakni  merupakan  kelebihan dari  pemenuhan  kebutuhan-kebutuhan  dasar/pokok  (fa’idh  ‘an  al-hawa’ij  al-ashliyyah)  yang menyebabkan kewajiban zakat itu sendiri hanya dikenakan  atas  kelebihan  /  sisa  harta  setelah dikurangi pemenuhan kebutuhan primer untuk dirinya  sendiri  (contoh  1)  dan  /  atau  untuk keluarga  yang  nakhah  kehidupannya  menjadi tanggungannya (contoh 2). Berdasarkan  kasus  yang  Anda ragakan,  untuk  kasus-kasus  tertentu  (kasuists) dengan  jumlah  yang  pas-pasan  sebagaimana Anda  contohkan,  pengasuh  cenderung  untuk mengatakan  boleh  menetapkan  kategori  asnaf fakir  dan  miskin  dianalogikan  dari pendapatan perkapita keluarga yang kurang dari pendapatan perkapita  keluarga  wajib  zakat.   Dengan demikian,  maka  contoh  1  yang  seorang  diri sehingga  dikategorikan  tdak  miskin,  dikenai wajib  zakat atas penghasilannya di satu sisi dan pengeluarannya  di  sisi  yang  lain;  sementara untuk contoh 2 yang memiliki 4 orang tangungan keluarga  sehingga  terkategorikan  miskin,  tidak dikenai  wajib  zakat  meskipun  penghasilannya dalam satu tahun sudah setara dengan 85 gram emas dalam pengertan sama dengan penghasilan orang dalam kasus 1. Sebab, penghasilannya yang setara dengan 85 gram emas dalam satu tahun (haul), itu selain tergolong ke dalam penghasilan bruto  dalam  pengertan  belum  diambil  biaya utama  (ongkos/transportasi)  dan  lain-lain,  yang bersangkutan  juga  memiliki kewajiban  keluarga yang demikian banyak/berat. Atas dasar ini pula maka yang bersangkutan itu bukan hanya boleh tidak  dikenai  beban (kewajiban)  membayar zakat, melainkan pada saat yang bersamaan juga– terutama anggota keluarganya — bisa (berhak) menjadi mustahik zakat atas dasar kemiskinannya sebagaimana pada contoh kasus 2.
Hanya  saja,  bila  dihubungkan  dengan zakat  profesi  (penghasilan),  orang  yang  berada dalam kasus nomor 2  ini dapat dikatakan  tdak akan pernah menjadi muzakki (membayar zakat) sepanjang  hayatnya  meskipun  penghasilannya lebih  besar  lagi  dari  itu.  Misalnya  (Katakanlah) dua  hingga  tga  kali  lipat  sekalipun  manakala cara  pembagiannya  sepert  itu.  Pasalnya  ? Berapapun  tambahan penghasilan  yang  dia terima, terkesan akan selalu habis bila dibagikan dengan  logika  pendapatan  perkapita,  kecuali jika penghasilannya sedemikian rupa banyaknya (berlipat-lipat  lebih  besar)  dari  sekedar  kasus yang Anda contohkan.
Atas  dasar  itu  pula  maka  tdak  sedikit ulama yang berpendirian bahwa zakat penghasilan (profesi)  pada  dasarnya  harus  dikeluarkan  dari pendapatan neto (setelah diambil ongkos/biaya riil)  seketka  yang  jumlahnya  tetap  mencapai satu  nishab  tanpa  harus  dihitung-hitung  untuk pembiayaan keperluan hidup terlebih dahulu.
Dengan  demikian,  selain  insya  Allah akan  memperoleh  keberkahan  tersendiri atas  zakat  yang  dikeluarkannya,  juga  insya
Allah  akan  bertambah  rizki   dalam  kelanjutan hidupnya.  Kecuali  itu,   yang  bersangkutan  juga akan  merasakan  indahnya  menjadi  muzakki. Syukur-syukur  minimal  menjadi   munfk  dan mutashaddik,  sebab  kehidupan  itu  harus berproses ke arah yang lebih maju lagi termasuk ekonomi  dan  keuangannya.  Pendeknya,  tdak selalu dan selamanya menganalogikan kewajiban zakat  dengan  pendapatan  perkapita  sebuah keluarga,  apalagi  tatkala  dikaitkan  dengan  zakat perofesi  (penghasilan)  yang  umumnya  selalu mengalami  kenaikan.  Kecuali  mereka  yang pendapatannya  bena-benar  stagnan,  apalagi dengan pendapatan yang kurang dinishab dengan tanggungan keluarga yang berat pula. Pendeknya, zakat tdak akan pernah memberikan beban berat bagi siapapun yang siap mengeluarkan zakatnya. Amin.