ZAKAT PERTANIAN DAN KETENTUANNYA

ZAKAT PERTANIAN DAN KETENTUANNYA

  • Post published:25 September 2021

Definisi Zakat Pertanian

Allah SWT dengan kekuasaan memberi nikmat hasil tumbuh-tumbuhan yang keluar dari bumi. Keberagaman hasil tumbuhan yang telah dipanen memiliki hak yang harus ditunaikan. Pemenuhan hak dari hasil tumbuhan dikenal dengan zakat pertanian.

Zakat pertanian merupakan salah satu jenis zakat maal, meliputi hasil tumbuh-tumbuhan atau tanaman yang bernilai ekonomis. Sesuai firman Allah SWT pada Q.S Al – An’am ayat 141

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

Syarat Hasil Pertanian Wajib Dikeluarkan Zakat

Hasil pertanian yang wajib dikelurkan zakatnya harus memenuhi syarat-syaratnya, yaitu:

  1. Bisa ditakar dengan satuan ukuran
  2. Tumbuh dengan usaha dari manusia. Tanaman yang tumbuh liar tidak ada zakatnya, karena tidak memiliki kepemilikan yang resmi terhadap muzakinya
  3. Mencapai nishab yaitu seukuran 5 wasaq berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW

                Tidak ada kewajiban zakat pada biji-bijian dan buah kurma hingga mencapai 5 wasaq. [HR. Bukhari no. 1405 dan Muslim no. 979]

  1. Jenis tanaman kebutuhan pokok yang dapat disimpan

Dari Abu Burdah, bahwa Abu Musa Al-Asy’ari dan Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhuma pernah diutus ke Yaman untuk mengajarkan perkara agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka agar tidak mengambil zakat pertanian kecuali dari empat jenis tanaman: hinthah (gandum halus), sya’ir (gandum kasar), kurma, dan zabib (kismis). [HR. Al Baihaqi 4: 125]

Imam Malik dan Imam Syafi’i berpendapat kurma dan kismis adalah makanan pokok di masa silam karena menjadi suatu kebutuhan primer dan makanan tersebut bisa disimpan. Sehingga hal ini dapat diqiyaskan atau dianalogikan pada padi, gandum, jagung, sagu dan singkong yang memiliki ‘illah yang sama.

Nishab Zakat Pertanian

Nishob zakat pertanian adalah 5 wasaq. Dalil yang mendukung pendapat jumhur adalah hadits,

“Tidak ada zakat bagi tanaman di bawah 5 wasaq.” HR. Bukhari no. 1405 dan Muslim no. 979.

Jika diturunkan, maka

1 wasaq = 60 sho’,

1 sho’ = 4 mud.

1 sho’ diperkirakan sama dengan 2.4kg

Sehingga nishab zakat pertanian = 5 wasaq x  60 sho’ x 2.4kg= 720 kg.

Jika hasil panen pertanian telah melampai 720kg, maka sudah wajib menunaikan zakat pertanian.

Kadar zakat hasil pertanian

Kadar zakat pertanian sesuai dengan irigasi yang dilakukan saat proses penanaman. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

Tanaman yang diairi dengan air hujan atau dengan mata air atau dengan air tada hujan, maka dikenai zakat 1/10 (10%). Sedangkan tanaman yang diairi dengan mengeluarkan biaya, maka dikenai zakat 1/20 (5%).” [HR. Bukhari no. 1483 dan Muslim no. 981]

  1. Jika tanaman diairi dengan air hujan atau dengan air sungai tanpa ada biaya yang dikeluarkan atau bahkan tanaman tersebut tidak membutuhkan air, dikenai zakat sebesar 10 %.
  2. Kedua, jika tanaman diairi dengan air yang memerlukan biaya untuk pengairan misalnya membutuhkan pompa untuk menarik air dari sumbernya, seperti ini dikenai zakat sebesar 5%.
  3. Jika sawah sebagiannya diairi air hujan dan sebagian waktunya diairi air dengan biaya, maka zakatnya adalah 7,5 %.

Hitungan 10% dan 5% adalah dari hasil panen dan tidak dikurangi dengan biaya untuk menggarap lahan dan biaya operasional lainnya.

Kapan zakat pertanian dikeluarkan

Dalam zakat hasil pertanian tidak menunggu haul atau batas waktu tertentu, namun setiap kali panen ada kewajiban zakat.

Cara perhitungan zakat pertanian

Bpk. Muslim adalah seorang petani, selama pemeliharaan ia mengeluarkan biaya sebanyak Rp 5.000.000 Hasil panen yang didapat sebanyak 10 ton beras. Maka Bapak Muslim harus membayar zakat sebanyak

Ketentuan Zakat Hasil Tani:

Nishab 5 wasaq = 653 kg beras.

Tarifnya 5%

Hasil panen 10 ton = 10.000 kg x 10.000 x 5% = 500 kg

 

Jika dirupiahkan: harga jual beras adalah Rp10.000,- maka 10.000 kg x Rp10.000 = Rp100.000.000

100.000.000 x 5% = Rp5.000.000,-

Maka zakatnya adalah 500 kg beras atau Rp5.000.000,-

 

Salurkan kebaikanmu

No.rek 0206-01-002801-30-1 a.n Dana Infaq Yayasan Baitul Maal BRI

 

Informasi dan konfirmasi

https://wa.me/6282112444549