Zaid bin Tsabit, Sang Pena Rasulullah

Zaid bin Tsabit, Sang Pena Rasulullah

  • Post published:Juli 26, 2019

Zaid bin Tsabit bin Tsabit bin adh-Dhahak al-Anshari radhiallahu ‘anhu adalah seorang sahabat Anshar, ia berasal dari Bani Najjar. Saat Rasulullah tiba di Madinah, kondisi Zaid saat itu adalah seorang anak yatim, Ayahnya wafat saat perang Bu’ats.

Pada tahun pertama hijrah, usia Zaid tak lebih dari 11 tahun. Saat itu ia menemui Rasulullah bersama orang-orang dewasa lainnya dengan membawa pedang yang panjangnya melebihi tinggi badannya sendiri. Rasulullah lantas tidak mengizinkannya, tapi Zaid kecil tidak langsung menyerah, ia pulang untuk mengadu pada Ibunya dan terus belajar untuk mencari kelebihan yang ia miliki. Berkat kecerdasannya, kemudian ia diangkat menjadi penerjemah Rasulullah.

Setelah Rasulullah wafat, Zaid mendapatkan tugas untuk mengotentifikasi Al-Quran karena banyak penghafal Al-Quran tewas dalam peperangan. Umar bin Khattab meyakinkan Abu Bakar untuk mengumpulkan Al-Quran dalam manuskrip. Abu Bakar kemudian memanggil Zaid untuk membahas pengumpulan Al-Quran.

Abu Bakar yakin pemuda itu cerdas dan terpercaya. Bagi Zaid, mengumpulkan Alquran adalah tugas yang sangat berat. Bahkan, dia membandingkan hal itu dengan menggeser gunung yang dinilainya masih lebih mudah. Meski demikian, dia tetap menerima tugas tersebut. Khalifah meyakinkan Zaid bahwa hal ini adalah suatu kebaikan sehingga Zaid bin Tsabit bersedia melaksanakan tugas dari Khalifah Abu Bakar.

Zaid bin Tsabit mengumpulkannya ayat-ayat yang pernah ditulis dilembaran kulit binatang, tulang-tulang, dan pelepah kurma. Didatanginya satu per satu para penghafal Al-Qur’an yang masih tersisa untuk menyetorkan hafalan mereka. Tugas yang didapatinya sungguh tidak mudah. Ia harus memastikan kebenarannya pada minimal 2 saksi yang benar-benar menghafal Al-Qur’an. Akhirnya, setelah semua ayat-ayat berhasil dikumpulkan, Zaid bin Tsabit menuliskannya kembali pada kulit binatang. Dia sangat ingat urutan surat dalam Al-Qur’an karena Rasulullah-lah yang menuturkannya 2 kali tentang urutan surat-surat dalam Al-Qur’an sebelum wafatnya.

Ayat-ayat Al-Qur’an telah usai ditulis kembali dan dikumpulkan oleh Zaid bin Tsabit. Hasil kerja keras Zaid bin Tsabit tentu mengurangi banyak kecemasan Khalifah terhadap gugurnya para tahfidz.
Walaupun saat itu lembar-lembar kulit binatang yang berisi ayat-ayat tersebut hanya untuk dikumpulkan, penyempurnaannya pada masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan. Beliaulah yang memberi perintah agar Al-Qur’an dimushafkan dalam bentuk kitab seperti yang kita miliki sekarang.

Walaupun Allah sudah menjamin kemurnian Al-Qur’an, namun kita juga perlu berterimakasih melalui panjatan doa-doa yang kita langitkan untuk beliau. Berkat Zaid bin Tsabit, Al-Qur’an tersusun dengan rapi sehingga bisa sampai ditangan kita hingga hari ini, kita dengan mudah membaca dan mempelajari dan manghapalnya. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada Zaid bin Tsabit. Dan semoga kita semua bisa menjadi pemuda yang cerdas seperti beliau, yang mencintai Al-Qur’an dan suka rela membela agama Allah dan Rasul-Nya.