YBM BRI Berdayakan Pondok Pesantren Pertama Pendidik Agama Islam Suku Baduy

  • Post published:22 Februari 2017

Ponpes Sultan Hasanudin YBM BRI

BANTEN — Gerimis mengguyur wilayah Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Di kecamatan tersebut terkenal dengan sebutan wilayah Suku Baduy. Ya, memang sebagian besar Suku Baduy menetap di sana.

Di kawasan tersebut juga berdiri Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin, yang memiliki 110 santri termasuk 20 anak santri asli Suku Baduy baik putra berjumlah 54 dan putri berjumlah 56. Ponpes rintisan Kyai Zainudin Amir, telah lama merangkul anak-anak Suku Baduy. Perlahan dengan pasti, pembekalan ilmu dan pengetahuan Agama Islam, tertanam di anak-anak Baduy.

Melihat aktivitas Suku Baduy yang nomaden dan ketertinggalan akan pendidikan, melatar belakangi Kyai Zainudin mendirikan ponpes. Awal 1985 adalah mulai dirintisnya ponpes tersebut. Sehingga, lebih dari 30 tahun, Ponpes Sultan Hasanuddin konsisten membumikan Islam di Tanah Baduy.

Melihat konsistensi tersebut, YBM BRI melalui program beasiswanya menyuntikkan semangat belajar bagi santri di ponpes binaan Kyai Zainudin tersebut. Tercatat ada 30 santri penerima beasiswa, dan 20 diantaranya adalah anak Baduy. Tak hanya beasiswa, menurut Chandra Dispratomo, selaku pelaksana harian YBM BRI kanwil Jakarta 3.

Ponpes Sultan Hasanudin YBM BRI“YBM BRI pada akhir 2015 memberikan bantuan berupa pembuatan fasilitas MCK baik bagi pondok pesantren maupun masyarakat umum. Kemudian di lain sisi, santri-santri Pondok Pesantren diberikan bibit Jahe Merah dan pembekalan penanamannya oleh YBM BRI. Luas area tanam Jahe Merah sekitar  200 Meter persegi dan mampu menghasilkan sekitar 2 Ton Jahe Merah pada masa panen. Keuntungannya untuk membantu biaya operasional atau pengeluaran Pondok Pesantren, seusai Jahe Merah dijual ke Pasar Ciboleger,” ujar Chandra.

Lanjut Chandra mengatakan, “Pengelolaan dan perawatan jahe diserahkan kepada pihak ponpes dengan melibatkan santri dan warga sekitar. Ini merupakan wujud dari program Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP), yang mana satu bibit jahe dapat menghasilkan hingga 5 – 10 Kg. Namun tetap ada kemungkinan gagal panen, yaitu sekitar 20%. Sehingga, total panen untuk 5.000 bibit jahe adalah 20.000 Kg, dengan harga jual sekitat Rp.6.000 / kg. Sehingga total keuntungan minimal yang bisa didapat adalah Rp. 120 juta untuk setahun. Maka, BUMP ini dapat menjadi solusi untuk menggerakkan kegiatan-kegiatan di ponpes tersebut”.

“Sedangankan di hal lain, YBM BRI memberikan insentif asatidz yang termasuk bagian dari integrasi pemberdayaan ponpes. Di mana uang senilai Rp. 250.000 tersebut setiap bulannya diberikan untuk 6 asatidz yang belum menikah dan telah mengabdi lebih dari 4 tahun,” pungkas Chandra.