YBM-BRI Adakan Baksos Kesehatan & Bagikan 1000 Paket MakananTambahan di Kabupaten Boyolali

  • Post published:Januari 22, 2015

YBM-BRI Adakan Baksos Kesehatan & Bagikan 1000 Paket MakananTambahan di Kabupaten Boyolali

Yayasan Baitul Maal BRI bersama BRI Kanca Boyolali mengadakan baksos kesehatan dan pembagian 1.000 Paket Makanan Tambahan (PMT) di Kec. Kemusu, Kec. Nogosari, dan Kec. Banyudono. Kecamatan-kecamatan tersebut merupakan tiga dari 12 kecamatan dengan kasus gizi buruk dan gizi kurang tertinggi di Kab. Boyolali (Dinas Kesehatan Kab. Boyolali)

Kegiatan yang dilaksanakan di SDN 01 Keyongan, Kec. Nogosari, Kab. Boyolali, Jawa Tengah ini dihadiri oleh Agus Dwiyanto (Manajer BRI Kanca Boyolali), Robiana Weda Asmara (Pelaksana Harian YBM BRI Kantor Pusat), Suyadi (Kepala SDN 01 Keyungan), dan Ratoyo (Kepala Seksi Gizi Dinkes Boyolali). Pada kesempatan itu Ratoyo mengungkapkan bahwa pada tahun 2013, terdapat 6,7 % anak dengan gizi kurang di Kab. Boyolali, dan kabupaten tidak memiliki anggaran yang cukup untuk menangani kasus yang ada karena defisit anggaran sejak tahun 2010.

Sebagaimana tujuan diadaknnya kegiatan yaitu, meningkatkan status gizi anak yang terindikasi gizi buruk, dan mencegah terjadinya kasus gizi buruk di wilayah Kab. Boyolali, YBM BRI melanjutkan kegiatan tersebut dengan melakukan pendampingan terhadap keluarga dari anak yang terindikasi menderita gizi buruk dan gizi kurang selama tiga bulan, yang rencananya dipusatkan di tiga desa di Kec. Nogosari dan tiga desa di Kec. Banyudono.

Status gizi pada dasarnya adalah keadaan seimbang antara asupan dan kebutuhan zat gizi yang diperlukan tubuh untuk tumbuh kembang terutama untuk anak balita, aktifitas, pemeliharaan kesehatan, penyembuhan bagi mereka yang menderita sakit dan proses biologis lainnya di dalam tubuh. (Depkes.RI 2008). Ukuran yang digunakan dalam menentukan status gizi adalah berat badan yang didasarkan pada tinggi badan atau umur.

Perbedaan antara gizi buruk dengan gizi kurang terletak pada proses penyembuhan. “mereka mengalami gizi buruk bukan murni karena kekurangan pangan, tetapi karena adanya penyakit penyerta” Ungkap Ratoyo.