Qomaruzzaman, Petani Melon Difabel yang Tak Putus Asa

  • Post published:10 Oktober 2018

Melon merupakan salah satu buah yang disukai oleh hampir setiap kalangan karena rasanya yang manis  dan mengandung banyak vitamin diantaranya vitamin C dan B-6 yang berfungsi sebagai kekebalan tubuh dan metabolisme tubuh. Buah yang termasuk dalam salah satu suku labu-labuan ini memiliki potensi  yang cukup tinggi di pasaran, sedangkan berdasarkan informasi yang dilansir dari beberapa media disebutkan bahwa melon lokal belum mampu cukupi kebutuhan pasar. Selain permintaan yang tinggi yakni 20% dari konsumsi buah nasional, buah satu ini termasuk yang memiliki periode panen singkat dan dapat tersedia sepanjang tahun.

Qomaruzzaman atau yang biasa disapa Pak Qomar adalah salah satu anggota Program Peningkatan Keterampilan Usaha Rakyat (PKUR) YBM BRI, dibawah binaan YBM BRI ia telah menggeluti budidaya melon selama tiga bulan. Sebelumnya dia merupakan petani cabai yang pendapatannya seringkali tak menentu dan belum dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tidak sebagaimana kebanyakan kondisi kita pada umumnya Pak Qomar dilahirkan dengan keterbatasan fisik, meski begitu ia tidak menyerah. Pak Qomar melakukan budidaya melon dengan menggunakan kedua kakinya. Meski diakuinya, hal itu tidak mudah untuk seorang  difable. Namun sesama anggota kelompok saling membantu.

Sejak bertani melon pada bulan Juni 2018, ia dan kelompoknya telah lima kali panen dan dua kali gagal panen. Dua kali gagal panen menjadi pembelajaran berharga. Baru-baru ini pada September 2018, kelompok PKUR Pak Qomar telah berhasil panen melon sebanyak 4 ton. Harga jual melon berbeda sesuai dengan kualitas melon, grade A dijual dengan harga Rp. 8.500 per kg, grade B dijual dengan harga Rp. 6.500 per kg, dan grade C dijual dengan harga Rp. 4.500 per kg. Dari hasil panen tersebut, ia berhasil mendapatkan keuntungan senilai Rp. 30.000.000.