Program IP2BK YBM BRI Sejahterakan Keluarga Ibu Hayati

  • Post published:21 Mei 2019

Kecamatan Pattalassang hanya berjarak 41,8 KM dari Kabupaten Gowa. Orang – orang mengetahui nama Pattalassang, tetapi tidak berarti memahami isi kehidupan terdalam kecamatan tersebut. Pattalassang mulai terkenal sejak terdengarnya isu bahwa kabupaten Gowa akan dipindahkan ke Pattalassang. Sebagian kawasan Pattalassang identik dengan kawasan elite. Namun, sesungguhnya keadaan mayoritas warga pinggiran Pattalassang sangat memprihatinkan.

Keluarga ibu Hayati salah satu potret keluarga pinggiran kecamatan Pattalassang. Ia berprofesi sebagai ibu rumah tangga, sedangkan suaminya sebagai buruh bangunan. Dari pernikahannya, mereka dikaruniai dua orang anak, anak pertamanya kini duduk di kelas tiga sekolah dasar dan anak keduanya baru berusia lima bulan. Jika boleh memilih, suami ibu Hayati tidak mau menjadi buruh bangunan, pak Campa lebih banyak menganggur hingga ia kesulitan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Kehadiran program IP2BK dari YBM BRI memberikan secercah harapan untuk tambahan penghasilan. Setelah beberapa proses survey, ibu Hayati bersama 19 orang tetangganya mendapatkan bantuan modal usaha untuk budidaya 40 itik petelur per orang dilengkapi pakan serta kandang.

Memelihara itik ternyata tidak semudah yang dibayangkan, dalam dua minggu pertama ibu Hayati mengalami kendala, itik tidak kunjung bertelur dan beberapa mati terserang penyakit. Hal ini disebabkan asupan pakan dedak saja tidak mencukupi dan itik butuh penyesuaian dengan tempat baru. Namun hal ini tidak berlangsung lama, melalui kelompok binaan program IP2BK, peserta saling berdiskusi mencari solusi. Mereka saling menyemangati satu sama lain meskipun usaha ternak mereka hampir gagal. Akbar selaku pendamping program memberikan inisiatif agar sumber pakan tidak hanya dari dedak, namun bisa ditambahkan bahan pakan konsentrat alami seperti keong sawah, sayur – sayuran yang tidak layak dimasak dan itik bisa dilepas ke sawah untuk mencari makan sendiri.

Ide tersebut akhirnya membuahkan hasil, pada awalnya itik menghabiskan pakan dedak 7 kg perhari dengan harga Rp 2.500/kg, dalam sebulan menghabiskan Rp 525.000, sedangkan itik bertelur hanya 5-10 butir per hari. Namun dengan metode tambahan pakan konsetrat alami, kini dalam sehari kebutuhan dedak hanya 4 kg, telur yang dihasilkan pun meningkat menjadi 20-25 butir. Dengan harga jual telur Rp 85.000/rak dalam 1 rak berisi 30 telur, maka penghasilan ibu Hayati Rp 2.125.000/bulan. Ia mendapatkan keuntungan bersih kurang lebih Rp 1.500.000, selebihnya dibelikan pakan dan tambahan bibit itik.

Kini keluarga ibu Hayati lebih sejahtera, disamping bantuan modal usaha, YBM BRI juga memberikan tunjangan pendidikan, tunjangan kesehatan, advokasi BPJS, bimbingan belajar agama, dan bantuan sarana ibadah. Melalui program IP2BK ini ibu Hayati dan keluarga semakin termotivasi dan semangat berwirausaha.

Sob, negeri kita luas dan kaya, tapi tidak semua masyarakatnya kaya. Yuk bantu bangkitkan semangat dan sejahterakan keluarga Indonesia di seluruh pelosok negeri, melalui program Integrasi Program Pemberdayaan Berbasis Keluarga (IP2BK) YBM BRI. Salurkan donasimu melalui
Bank BRI 0206-01-000968-30-1 atas nama DANA ZAKAT YBM BRI
Bank BRI 0206-01002801-30-1 atas nama YBM BRI QQ Dana Infaq
Konfirmasi donasi/info lebih lanjut hubungi nomor 082112444549