Ponpes Darul Falah-Sidoarjo

  • Post published:Maret 17, 2015

Papan nama pengurus ranting sebuah partai menyambut kami di muka pondok darul falah 56. “Pak Yai enten?, demikian kata pembuka yang menggantikan salam. Sejurus kemudian sosok yang kami cari menyembul dari pintu musholla di sudut pondok.

Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan, kami menyeruput amdk non aqua sambil menunggu respon. Rupanya rangkaian kata dan penjelasan pak yai jauh dari perkiraan kami. Dengan sopan beliau menolak tawaran bantuan dari ybm.

Sekali lagi kami menyapu pandangan pada seluruh fisik pondok. Plafon yang mulai rontok, cat yang pudar, kamar mandi type YPA (yang penting ada, red), karpet mrudul dan dua lokal kelas kumuh multifungsi. Pak yai bersikukuh bahwa seluruh kebutuhan pondok sudah dipasrahkan pada Allah, setiap kali ada kebutuhan beliau menengadah dan mengadu dengan bahasa apa adanya. Allah begitu dekat.

Kami terus menggali, mencoba mencari jawab atas pertanyaan yg sedari tadi hanya berada di dalam batin. Beliau menjelaskan begitu sederhananya hidup, hanya fokus mengurus santri: tidak bekerja, tidak menjadi khatib, tidak mengisi pengajian lain dan tidak menerima sedekah ataupun pemberian dalam bentuk lain.

Syaikh abdul qadir jaelani yang menolak 2 kantong emas pemberian khalifah harun al rasyid menjadi landasan atas sikapnya menolak pemberian orang. Di mata Pak Yai hanya Allah lah satu-satunya penolong dan tempat bergantung. Langkah yang tidak masuk nalar akademis inilah yang justeru malah membawa pada jalan-jalan khas para abidin.

Kami meninggalkan pondok dengan sebuah pelajaran besar. Allah punya hajat begitupun kita. Jika kita mengikuti keinginanNya maka Allah akan memenuhi kebutuhan kita. Jika kita hanya menuruti keinginan kita, maka Dia Maha Kaya lagi Maha Sempurna.

Sambil mobil berjalan pelan menjauhi pondok, saya masih menyaksikan rumah Pak Yai yang lebih bagus dari rumah saya. Dan mesjid besarnya yang nampak akan sangat kokoh bila rampung kelak. Hidup menjadi sederhana bagi yang menyederhanakan. Dan seketika menjadi rumit bagi yang mengandalkan kepala semata. Dengan kesederhanaannya justeru kami melihat wajah Pak Yai yang tanpa beban hidup, mungkin karena seluruhnya sudah dipasrahkan padaNya. Wallahu alam.