Ponpes Al Munawaroh-Gresik

  • Post published:16 Maret 2015

Aku menelisik lebih dalam, lurus pada sepatu yang akhir2 ini selalu tampak berdebu di bagian bawahnya. Jejak jerebu yang menggambarkan bahwa pondok pondok yang kami sambangi memang belum terjamah jalan permanen. Namun bisa juga dimaknai bahwa musim kemarau merata di pelosok negeri.

Modernisasi nampaknya bukan isyu penting bagi para kyai yang berkhidmat menghidupkan pondok, apatah lagi berita terbaru tentang gadget quadcore yg sudah tahan air.

“Sebulan setiap santri membayar uang makan seratus tiga puluh ribu”, demikian pak kyai meluncurkan statement sambil menarik nafas panjang. Aku mencoba berhitung lebih dalam dibanding perdebatan 4×6 atau 6×4 yang melambungkan siswa kelas dua dan profesor dari dua kampus terkemuka. Ya ini lebih esensi bagiku, bagaimana tidak.

Pertama, jika seluruh santri makan 3 kali dalam sehari maka biaya sekali makan sekitar 1.500. Angka itu jika dicoba belanjakan di jogja sekalipun mungkin hanya angkringan yang mampu menjawabnya.

Kedua, santri yang setiap hari mengkonsumsinya bukanlah santri kacangan. Didepan pondok terdapat spanduk sederhana yg mencantumkan nama santri yang menjuarai pelbagai lomba mtq internasional, yap internasional.

Santri disini alhamdulillah setiap kali mtq Diminta untuk mewakili banyak provinsi, demikian ujar pak yai. Byar pet, selama pembicaraan yg sepeminuman teh itu listrik berkali2 mati seolah memberi isyarat bahwa pondok itu memang layak dibantu.

Saya ini cuma numpang ngekos sama santri. Kalo rumah ya ndak punya, sempat mau beli ya tapi khawatir belum lunas sudah dipanggil Allah. Jadi yah sudah memutuskan untuk nyicil rumah di akhirat saja. Kata2 yang lurus tajam dan penuh makna meluncur begitu saja dari beliau. Saya tertusuk secara maknawi. Allah begitu indah menghias orang ini.