Kisah Relawan : Menjadi Pendamping

Kisah Relawan : Menjadi Pendamping

  • Post published:Desember 7, 2018

Ada air mata yang mendorong untuk segera jatuh saat pertama kali menginjakkan kaki di desa ini. Jalanan penuh lumpur, sisa air hujan yang membanjiri sejak kemarin. Desa Tanjung Rejo, Dusun XI Paluh Merbau dan Paluh Getah, desa dampingan dimana program IP2BK YBM BRI akan berjalan. Mendampingi 20 keluarga dengan keberagaman karakter dan pemikiran. Rumah yang bahkan masih berlantai tanah, berdinding tepas dan beratap rumbia. Bahkan untuk masuk kedalam rumah saya menjadi gugup apakah harus membuka alas kaki ataukah tetap menggunakannya?

Bagaimana rasa syukur ini tidak membuncah, betapa sebelumnya hati ini masih sering merasa kurang dengan hidup yang diberikan Allah, masih saja belum merasa cukup padahal ada orang lain yang masih hidup dalam keterbatasan, bukan hanya keterbatasan kehidupan ekonomi namun juga keterbatasan dalam banyak hal. Ya Rabb ampuni kami…

“Mulai minggu depan kita sholat Ashar berjamaah setiap selesai pertemuan ya Bu”, saya katakan saat awal-awal memulai pembinaan di Sentra Teratai hampir 4 bulanan yang lalu. Ada dua orang ibu yang malu-malu mengatakan “kami gak punya mukena Bu”. Ya Allah, bahkan saat itu saya kesulitan untuk berkata-kata. Tidak tahu rasa apa lagi yang harus disampaikan. Dengan sigap saya jawab, “okey minggu depan saya bawakan, yang penting ibu-ibu semangat sholat yaaa”.

Memasuki bulan kedua pembinaan, mulai mengunjungi rumah-rumah peserta IP2BK, betapa sibuknya mereka mencarikan tikar yang pantas setiap saya datang berkunjung, karena mereka takut dingin dan basahnya tanah menembus pakaian yang saya kenakan. “Sudah ibu gak perlu repot-repot, melihat ibu antusias mengikuti program ini saya sudah senang” ucap saya.

Mulailah cerita-cerita berlanjut, kegiatan mereka, aktivitas ibadah, cerita keseharian, curhatan hati yang terkadang membuat saya menahan nafas untuk tidak terlihat terlalu terkejut dengan keterbukaan cerita mereka. “Kami udah anggap ibu seperti keluarga sendiri” kata mereka. Alhamdulillah, memang ini yang saya harapkan.

Dari awal pertemuan dengan 20 ibu-ibu penerima IP2BK saya selalu katakan, “hal paling utama ibu jangan menganggap saya orang lain, ibu harus menganggap saya seperti keluarga ibu, kalau ibu menganggap saya orang lain pasti ibu segan, sungkan dan gak mau terbuka, sebaliknya kalau ibu mengganggap saya keluarga ibu, mau saya datang tiap hari, main-main tiap hari, tidur-tiduran di rumah ibu pasti ibu senang kan. Karena ketika kita menganggap seseorang sudah menjadi bagian dari keluarga kita pasti kita akan menerima dia kapanpun dia hadir di rumah kita.”

Materi-materi pembinaan mulai berjalan di akhir bulan kedua dan ketiga. Materi tentang Ketahanan Keluarga, Mengelola keuangan, belajar bersama, diskusi bersama, menggunakan bahasa yang paling mudah mereka pahami, yaa bahasa paling mudah untuk mereka yang hanya mengenyam pendidikan sampai tamat SD, paling tinggi SMP, bahkan ada yang tidak tamat SD. Bahkan ada yang masih belajar membaca dan menulis, bagaimana membuat suasana pertemuan tetap menyenangkan layaknya sekolah impian yang dirindukan anak-anak mereka. Rindu kalau gak ketemu buk…
Ini penguatnya, yaaa ini penyemangat pendampingan itu. Disaat mereka merindukan kita untuk hadir dan jadi bagian dihidup mereka.

“Alhamdulillah sekarang kami sudah mulai sholat Dhuha bu, kami sudah gak tinggal lagi sholat wajib. Sekarang kalau ke ladang dan ke sawah kami bawa air di botol untuk berwudhu, kami bawa kain sarung bersih buk untuk sholat. Dulu sebelum IP2BK jangankan sholat Dhuha buk, sholat wajib aja masih suka tinggal”, ini perkembangan yang disampaikan oleh warga binaan IP2BK.

Bahagia sekali mendengarnya, saya bukan seorang Ustadzah, saya bukan seorang ‘alim, saya yang masih berlumuran dosa yang masih berproses menuju jalan-Nya. Makasih buk, bukan buk, bukan karna saya, Allah lah yang menggerakkan hati Ibu, Allah lah melalui program ini yang membukakan hati ibu, melembutkan hati ibu untuk dapat mendengarkan materi-materi dan ilmu-ilmu yang membuat hati kita bergetar. Kita hanya sama-sama berupaya bu, dan dengan kuasa-Nya Allah menjaga kita untuk dapat hidup di jalan-Nya.

Ya Rabb betapa engkau kuasa, program ini, pekerjaan ini menjadikan jalan baik, jalan perjuangan, jalan yang Engkau ridhoi.

Menjadi pendamping tentu bukan hanya cerita soal pekerjaan. Menjadi pendamping bukan hanya sebuah pekerjaan untuk mendapatkan materi. Menjadi pendamping adalah perjalanan indah mendampingi, menemani dan berjuang bersama untuk kehidupan yang lebih baik. Tidak ada hal yang lebih mengharukan disaat dampingan kita (yang bahkan tidak mempunyai hubungan darah) mulai berproses menuju hidup yang lebih baik. Biarlah hanya Allah yang menilai semua yang kita perbuat dalam hidup ini. Satu hal yang pasti tetaplah berbuat baik dan bermanfaat. Bukankah sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat untuk orang lain. Perjalanan pendampingan ini masih panjang, masih banyak yang ingin dicapai, semoga Allah izinkan kita terus berjuang bersama.

Chairuna Syahputri
Pendamping IP2BK
YBM BRI Kanwil Medan

Berikut sepenggal kisah dari salah satu relawan program IP2BK (Integrasi Program Pemberdayaan Berbasis Keluarga) YBM BRI. Masih banyak relawan seperti mbak Chairun yang dengan ikhlas berjuang untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.