Batik Mantaran Sleman

Batik Mantaran Sleman

  • Post published:14 Oktober 2019

Sleman. Indonesia terkenal di dunia sebagai negara yang memiliki corak batik beragam. Bahkan jika dihitung satu per satu, diperkirakan ada ratusan motif khas batik nusantara. United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) bahkan mengakui batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non-Bendawi.

Salah satu upaya melestarikan batik di Indonesia, YBM BRI mendorong usaha Batik Mantaran, di Sleman, Yogyakarta. Usia menjelang senja tidak menghalangi ibu-ibu kelompok Batik Mantaran untuk berkarya. Lebih mengesankannya, mereka tidak sekedar berhitung keuntungan usaha yang akan diperoleh. Kelompok pembatik yang eksis di Dusun Mantaran, Kabupaten Sleman ini juga berpikir jauh ke depan tentang kelangsungan hidup generasi penerus.

Pembatik Mantaran memilih bahan alami seperti jolawe, tingi, dan tegeran untuk dijadikan bahan pewarna batik produksi mereka. “Kami angkat kekhasan pewarna alam karena sifatnya yang ramah lingkungan. Jangan sampai kita meninggalkan racun kepada anak cucu,” ungkap Rita Lestari (51), ketua kelompok Batik Mantaran.

Meski umumnya segmen pasar batik pewarna alam terbatas adalah kalangan menengah ke atas lantaran harganya yang relatif mahal, kelompok yang beranggota 20 orang ini tetap istiqomah. Sedikit demi sedikit pundi rupiah terus mereka kumpulkan demi menyokong perekonomian keluarga.

Berdirinya usaha ini pun atas inisiasi mereka dengan harapan bisa memperbaiki ekonomi keluarga. Diceritakan oleh Rita, kelompoknya mulai aktif sejak Juli 2015. Awalnya, mereka mendapat fasilitas pelatihan membatik dari Pemkab Sleman hingga akhirnya sepakat membentuk kelompok.
“Dulu sempat bingung kasih nama apa untuk kelompok. Lalu diputuskan pakai nama dusun saja sekalian untuk mengenalkan ke masyarakat luas,” ungkap perempuan paruh baya ini.

Pada 2017 kelompok Batik Mantaran ini tergabung dalam program PKUR YBM BRI. Dengan bantuan modal dan pelatihan, usaha yang dijalankan ini menjadi berkembang lebih pesat. “Alhamdulillah batik yang kami buat kini sudah masuk ke galeri-galeri batik dan ikut dalam pameran-pameran baik tingkat daerah maupun nasional,” tambah Rita.

Ciri khas motif andalan mereka adalah melon yang dimodifikasi dengan corak lain seperti parijotho atau parang. Alasan yang melatarbelakangi dipilih motif melon karena dulunya sebagian dari anggota berprofesi sebagai pembudidaya buah melon. Di lain sisi diharapkan bisa mendorong sektor perekonomian di daerah mereka.

Harga kain batik buatan kelompok ini berkisar antara Rp. 180.000 – Rp. 900.000 per lembar. Produksi mereka tergantung pesanan. Pemasaran dilakukan bekerjasama dengan toko-toko batik, dan galeri. Kebanyakan pembeli datang dari kalangan PNS, guru, dan ibu-ibu anggota PKK untuk keperluan seragam.

“Terima kasih YBM BRI atas bantuan yang diberikan. Selain mendapat bantuan modal, kami para ibu-ibu jadi lebih konsisten dalam menjalani usaha ini karena ada pendampingan. Alhamdulillah usaha ini bisa terus berjalan sampai sekarang dengan pemesanan yang terus meningkat. Semoga semakin banyak masyarakat yang tergabung dalam program PKUR, agar ekonomi masyarakat kecil bisa meningkat,” ungkap Rita.

Semoga batik menjadi salah satu identitas bangsa sekaligus penopang ekonomi UMKM yang kuat.
Yuk sob dukung UKM bersama program PKUR YBM BRI agar lebih banyak ibu-ibu yang produktif dan mandiri dalam ekonomi. Kirimkan donasi terbaikmu melalui :
Rekening BRI 0206-01-005680-30-6 (Zakat)
Rekening BRI 0206-01002801-30-1 (Infaq)
Jangan lupa konfirmasi ke mimin ya di 082112444549