YBM-BRI Kuatkan Keluarga Bendung LGBT

IMG_5013

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Setelah sukses melaksanakan pemberdayaan pesantren melalui In tegrasi Program Pemberdayaan Berbasis Pondok Pesantren pada 2015, Yayasan Baitul Mal Bank Rakyat Indonesia (YBM BRI), akan fokus pada program unggulan yang menintikberatkan pada pemberdayaan keluarga pada 2016.

Ketua Yayasan YBM-BRI Tri Wintarto mengatakann, inisiatif ini berangkat dari keprihatinan dan guna mengantisipasi pengaruh lesbi, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) yang mengancam keutuhan keluarga, YBM-BRI tahun ini meluncurkan program unggulan, yaitu Integrasi Program Pemberdayaan Berbasis Keluarga, yang bertujuan untuk menguatkan aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan mental spiritual keluarga prasejahtera.

Merujuk kajian Institut Pertanian Bogor (IPB), sebanyak 6.000 anak usia sekolah se-Kabupaten Bogor telah terjangkit LGBT. “Diperlukan program penguatan keluarga yang holistik,” tuturnya di Jakarta, Kamis (11/2).

Ia mengatakan, intervensi tidak hanya dari aspek ekonomi namun yang lebih penting adalah berjalannya peran, tugas, dan fungsi keluarga secara optimal dan penguatan nilai-nilai agama dan etika sehingga nantinya mampu mencetak SDM Indonesia yang berkualitas. Berikut wawancara Republika dengan sosok yang juga menjabat sebagai Kepala Divisi Bisnis Program dan Kemitraan PT BANK BRI (Perseor) Tbk itu:

Pada 2015, lembaga Anda fokus memberdayakan pesantren. Bisa dijelaskan?
Benar. Ini bagian ikhtiar pendayagunaan ziswaf dari karya wan BRI Selindo secara tepat, terukur dan berdaya guna, sepanjang 2015, YBM-BRI secara masif memperluas cakupan program yang terangkum dalam Integrasi Program Pemberdayaan Berbasis Pondok Pesantren. Total bantuan mencapai Rp 62,5 miliar.

Integrasi Program Pemberdayaan Berbasis Pondok Pesantren telah membantu 209 pesantren di seluruh Indonesia dengan memberikan beasiswa kepada 5.510 santri, apresiasi kepada 1.693 pendidik, membangun 183 prasarana dan mendirikan 203 Badan Usaha Milik Pesantren, yang mendapatkan penghargaan sebagai inisiator program peningkatan kualitas pendidikan agama dan keagamaan madrasah dan pondok pesantren dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Apa tujuan dan target yang hendak disasar dari program itu?

Program ini memiliki tujuan untuk membangun kemandirian pondok pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, dengan meningkatkan kualitas pendidikan, pemenuhan kebutuhan operasional, pembangunan sarana fisik, dan terbentuknya jiwa kewirausahaan di lingkungan pondok pesantren.

Pemilihan pondok pesantren sebagai basis program pemberdayaan merupakan langkah tepat untuk mempermudah pela- poran, monitoring-evaluasi dan berkelan- jutan, di mana keberadaan 27 ribu pondok pesantren selain sebagai institusi pendidikan juga merupakan benteng bangsa– terutama generasi penerus–dari ancaman narkoba, kriminalitas, pornografi, dan konsumerisme.

Sebagaimana BRI, pondok pesantren merupakan institusi yang mampu mencapai akar rumput sehingga Insya Allah kemanfaatan dana zakat yang dikelola YBM BRI lebih optimal.

Mengapa YBM BRI lebih memilih pesantren tahun lalu?

Berbagai dimensi kehidupan ada di sana. Dari sekolah hingga ekonomi. Ada beberapa manfaat. Pertama, monitoring mudah. Dana yang disalurkan bisa terkontrol langsung, pasti langsug kita bayar ke pesantren dan sampai ke penerima. Termasuk monitor programnya. Kedua, memudahkan orang tua yang kurang mampu untuk lebih fokus mencari nafkah bila anak mereka di pesantren.

Saya dulu sering lihat kalau kaum dhuafa itu cari nafkah bawa anak. Apa pun profesinya anaknya dibawa karena kalau di rumah tidak ada yang jaga. Apa itu pemulung atau apa pun. Saya kira ini tidak benar. Bagaimana kalau anak itu selamatkan dulu anaknya dengan memasukkan di pesantren dengan kita bayari penuh. Jadi, orang tua anak ini tidak usah mikir, titipkan saja di pesantren kita yang bayar.

Jadi, kalau ke depannya orang tua perlu dibantu dalam hal pemberdayaan dalam segi ekonomi kita bantu juga. Kemudian, saya berharap juga pesantren jadi pusat kegiatan-kegiatan masyarakat di situ. Jadi, orang tua anak yang anaknya di pesantren bisa ikut ngaji di situ. Harapan saya dengan membantu pesantren itu bisa anakanya pintar orang tuanya juga bisa bertambah ilmu agamanya.

Saya melihat di pesantren ini komperhensif, untuk anaknya, untuk orang tuanya, untuk gurunya, dan termasuk pesantren sendiri kita kasih modal. Jadi, namanya Badan Usaha Milik Pesantren kita buat dan itu sudah berjalan. Jadi harapannya, pesantren itu terus-terus kita bantu, kita punya target tiga tahun mandiri dengan cara kita buatakan usaha. Mau itu usaha ternak, pertanian, atau warung.

Lalu sejauh mana efektivitas program YBM BRI dalam meningkatkan kesejahteraan mustahik?

Berawal dari meningkatnya jumlah penerima manfaat setiap tahunnya, pada 2013 sebanyak 39.347 mustahik meningkat 321 persen menjadi 165.744 mustahik pada 2014 dan kembali meningkat 21 persen menjadi 201.771 mustahik pada 2015.

Juga kinerja 2015 bila dibandingkan dengan tahun 2014 menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pendayagunaan bidang ekonomi yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan mustahik sebesar 15 persen dari keseluruhan total penyaluran 2015 dibandingkan 2014 sebesar tujuh persen melalui program pember- dayaan ekonomi, yaitu Program Peningkatan Pendapatan Keluarga (P3K).

Program berbasis komunitas melalui fasilitasi pembiayaan usaha mikro dan inisiasi kelembagaan lokal sebagai wadah keswadayaan bersama, Klaster Usaha Unggulan Rakyat (KUUR), merupakan pro gram berbasis pengembangan potensi sumber daya atau produk lokal unggulan yang memiliki nilai jual pasar global dan Badan Usaha Milik Pondok Pesantren merupakan pem berdayaan ekonomi pondok pesantren melalui inisiasi Badan Usaha berdasarkan potensi dan kearifan lokal dalam rangka mencapai kemandirian pondok pesantren.

Pada 2016, apa yang akan menjadi fokus program YBM BRI?

Guna mengantisipasi fenomena yang mengancam keutuhan keluarga, yakni gerakan LGBT yang sudah menjangkiti anak bangsa (penelitian IPB : 6.000 anak usia sekolah terjangkit LGBT se-Kabupaten Bogor), diperlukan program penguatan keluarga yang bersifat holistik.

Intervensi tidak hanya dari aspek ekonomi, namun yang lebih penting adalah berjalannya peran, tugas, dan fungsi kelu- arga secara optimal dan penguatan nilai- nilai agama dan etika sehingga nantinya mampu mencetak SDM Indonesia yang berkualitas.

Menjawab tantangan di atas, YBM-BRI pada 2016 meluncurkan program unggulan, yaitu Integrasi Program Pemberdayaan Berbasis Keluarga yang bertujuan untuk menguatkan aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan mental spiritual keluarga pra sejahtera.

Program akan berjalan di 29 titik dengan 40 keluarga di setiap titik, yang meliputi tujuh titik di bawah supervisi YBM kantor pusat dan 22 titik di bawah supervisi YBM kantor wilayah.

Agenda besar apa ke depan yang akan ditargetkan YBM-BRI?

Kita ingin menjadi lembaga berstandar internasional dengan meraih sertifikat ISO 9001:2008, penguatan data basemus- tahik, laporan yang berbasis pada capaian dam pak program (Outcome Based Report),pengelolaan keuangan, sampai aspek penerima manfaat dan perluasan ke pengurusan YBM di 50 persen unit kerja BRI Selindo sehingga tekad optimalisasi pengumpulan dan penyaluran ZIS di lingkungan BRI dan umat Islam pada umumnya dapat tercapai dengan baik.

Modal penting apa yang dimiliki YBM-BRI untuk merealisasikan agenda itu?

Alhamdulillah, dukungan manajemen BRI melalui pemotongan gaji pekerja BRI seluruh Indonesia sejak 2011 yang merupakan ma nifestasi dari surah at-Taubah : 103, tidak ber tepuk sebelah tangan.

Hal ini terbukti dengan naiknya penghimpunan pada 2015 di banding 2014 sebesar 18 persen dari Rp 73,2 miliar menjadi Rp 86,4 miliar. Di sertai dengan naiknya jum lah muzaki sebesar 12 persen dari 41.606 men jadi 46.947.

Dan, yang lebih menggembirakan adalah naiknya jum lah penerima manfaat se besar 21 persen dari 165. – 744 mustahik pada 2014 men jadi 201.771 mustahik pada 2015. Doa merekalah yang insya Allah memberi keberkahan kepada seluruh keluarga besar BRI.

Apa saran Anda untuk optimalisasi ziswaf di Indonesia?

Diperlukan grand design terpadu antara BAZNAS dan LAZNAS dalam pembuatan kebijakan yang meliputi penerapan tujuan dan sasaran, penyusunan strategi, pelaksanaan program, dan fokus kegiatan serta langkah-langkah atau implementasi yang harus dilaksanakan oleh setiap BAZ/ LAZ.

Sehingga, dapat memberikan dampak yang positif terhadap penerima manfaat berupa intervensi yang lebih terarah dan meng hindari tumpang tindih program pemberdayaan.

Masyarakat pra sejahtera tidak hanya membutuhkan pro gram yang parsial, lebih dari itu dibutuhkan program terintegrasi yang memiliki pendekatan multisektor, lintas disiplin, dan dipertahankan secara berkelanjutan.

Inilah mengapa YBM BRI mengusung slogan “Reach The Unreachable”, YBM-BRI berupaya untuk menjangkau yang tidak tersentuh oleh pemerintah dan lembaga masyarakat lain di wilayah terpencil, terluar, dan tertinggal serta daerah wilayah rawan akidah dan mayoritas dhuafa.