Sejarah

Gedung YBM-BRIPada tahun 1990-an semangat ke-Islaman masyarakat Indonesia beranjak naik, demikian pula semangat untuk melaksanakan ajaranNya, termasuk kewajiban membayar zakat. Telah sekian lama rukun Islam nomor empat ini termarjinalkan, sehingga aspek sosial yang terkandung di dalamnya tak mempunyai arti. Kesadaran mengeluarkan zakat diiringi pemahaman bahwa di dalam zakat terdapat potensi besar yang bisa dikembangkan, khususnya bagi delapan ashnaf (golongan yang berhak menerima). Kondisi ini ditandai dengan bermunculannya lembaga-lembaga pengelola ZIS di masyarakat. Semangat ke-Islaman dan kesadaran akan besarnya potensi Zakat, Infak dan Sadaqah tersebut juga muncul di lingkungan BRI. Pada tahun 1992 dengan diprakarsai oleh Bapak Winarto Soemarto sebagai Direktur BRI melakukan langkah-langkah dasar dengan memasukkan zakat sebagai salah satu bagian dari program kerja Badan Pembina Kerohanian Islam (Bapekis) BRI.

Selanjutnya pada tahun 2001, dimana Indonesia masih merasakan dampak krisis ekonomi dengan bertambahnya jumlah orang miskin, sementara besarnya potensi ZIS di lingkungan BRI belum dikelola secara optimal. Bapak Rudjito sebagai Dirut BRI memprakarsai dibentuknya yayasan tersendiri yang khusus mengelola dana ZIS. Dalam proses awal upaya optimalisasi zakat di lingkungan BRI Bapekis berkonsultasi dengan para tokoh zakat antara lain; Eri Sudewo (CEO Dompet Dhuafa Republika), KH. Dr. Didin Hafiduddin (Ahli zakat dan dewan syariah DD Republika), Dr. Said Agil Husain Al Munawwar (guru besar IAIN Syarif Hidayatullah), juga melakukan studi banding ke Bamuis BNI 46. Hasil dari konsultasi tersebut dirumuskan oleh Bapekis dan dikonsultasikan ke Direksi BRI. Para direksi memberikan respon positif terhadap usulan tersebut dan meminta Bapekis untuk segara menyiapkan segala persyaratan pendirian Yayasan. Maka pada tanggal 10 Agustus 2001 BOD BRI yang terdiri dari H. Rudjito (Dirut), H. Ahmad Askandar, H. Akhmad Amien Mastur, Hendrawan Tranggana, Krisna Wijaya, Hj. Gayatri Rawit Angreni (Direktur), bersama Pengurus Bapekis BRI Kanpus, Pemimpin Wilayah dan para Pejabat di Kanpus sepakat mendirikan Yayasan Baitul Maal-Bank Rakyat Indonesia dengan H. Purwanto sebagai ketua Yayasan. Pada saat yang sama, terkumpul dana sebesar Rp 122.000.000,- (seratus dua puluh dua juta rupiah) yang diperuntukan sebagai dana abadi Yayasan.

Setelah pendirian yayasan, langkah selanjutnya yang ditempuh Bapekis adalah membuat Surat Edaran yang isinya himbauan kepada semua pekerja muslim BRI untuk mengisi Surat Kuasa pemotongan gaji untuk zakat dan infak dengan tim Konseptor yang terdiri dari H. Sarwono Sudarto, H. Purwanto, H. Prayogo Sedjati mewakili pengurus Bapekis Misbahul Munir dan H. Ahmad Mujahid sebagai pelaksana. Sebagai bentuk dukungan dan rasa kepedulian yang tinggi Surat Edaran tersebut ditandatangani oleh para Direksi. Menyikapi surat Edaran tersebut berbagai tanggapanpun mengalir dari para pekerja BRI, baik yang sangat mendukung maupun yang keberatan. Bentuk keberatan tersebut melalui lisan maupun tulisan. Tapi perlu digarisbawahi, bahwa keberatan para pekerja tersebut pada intinya bukan keberatan tentang kewajiban zakat itu sendiri atau keberatan terhadap keberadaan YBM-BRI, tapi lebih kepada mereka sudah menyalurkan langsung kepada mustahik.

Keberatan tersebut harus dijawab dengan prestasi dan kinerja yang baik. Yang penting niat kita baik, ikhlas mengemban amanat saudara-saudara kita yang lemah. Insya Allah, semuanya akan berakhir dengan baik. Segala rintangan dan keberatan harus dianggap sebagai cobaan untuk meningkatkan syiar zakat dan untuk berbuat yang terbaik. “ Demikian sikap yang diambil para pendiri YBM-BRI dalam menyikapi keberatan tersebut. Pada tanggal 6 November 2002 YBM-BRI dikukuhkan oleh Menteri Agama sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional dengan no SK 445. Dengan pengukuhan tersebut YBM-BRI mendapat legalitas untuk mengelola dana Zakat, Infak dan Sadaqah pekerja BRI dan masyarakat. Dengan didirikannya Yayasan Baitul Maal BRI, diharapkan dapat melengkapi lembaga-lembaga yang telah ada lebih dulu. Seraya berpegang teguh pada prinsip fastabiqul khairaat dalam mengangkat martabat mustahik. Di samping itu dimaksudkan agar pekerja BRI selalu peduli terhadap lingkungan sosialnya sebagai wujud implementasi slogan BRI “Melayani dengan setulus hati”.