Kolom General Manager

Dwi Iqbal Noviawan
General Manager YBM-BRI

Profesionalisme

Iman mampu mendorong kita melihat apapun sebagai kebaikan sebagaimana hadits, “Sungguh ajaib urusannya orang beriman, segala sesuatunya menjadi kebaikan. Dan tidak akan kau dapatkan yang sedemikian itu kecuali pada perkara orang beriman. Apabila dib’mpakan kesulitan maka dia bersabar, dan kesabarannya menjadikan urusannya menjadi baik. Dan apabila diberikan kesenangan maka dia bersyukur, dan kesyukurannya menjadBcan urusannya semakin baik” (HR Muslim 2999).

Demikian juga dengan kita, muslim yang hidup di masa Islam tengah meredup, meski sebagian melihatnya sebagai fase antara menuju kebangkitannya. Pada masa ini kita melihat umat Islam sedemikian berjarak dengan Quran dan sunnah. Nah justru disitu jualah keimanan membimbing kita untuk melihat kebaikan. Kebaikan dalam memanfaatkan peluang menegakkan a malan sunnah. Bahkan dua kebaikan sekaligus: menjadi saudara Rasulullah dan men dapatkan multilevel pahala atas hidupnya sunnah kebaikan.

Menjadi saudara rasul adalah predikat bagi setiap individu yang tidak bertemu dengan Beliau SAW namun mengamalkan sunnahnya, sebagaimana hadis, “saudaraku adalah mereka yang belum pemah melihatku tapi mereka beriman denganku dan mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itulah saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku. Dan beruntung juga mereka yg beriman kepadaku sedang mereka tidak pemah melihatku. (HR Muslim).

Mendapatkan multilevel pahala adalah upaya yang sejalan dengan aktivitas menghidupkan sunnah-sunnah kebaikan, sebagaimana hadis, “barangsiapa menghidupkan satu sunnah dari sunnah- sunahku kemudian diamalkan oleh manusia. maka mereka akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun” (HR Ibnu Majah 209)

Maka amat wajar jika hari ini -didorong oleh keimanannya- banyak orang menempuh spesialisasi dalam menghidupkan sunah kebaikan, sebut saja ust Yusuf Mansyur dengan sedekahnya, ust bobby herwibowo dengan tahfidznya, ust Arifin ilham dengan dzikimya, ust budi Azhari dengan sirohnya, ust Bachtiar Nasir dengan peran ayahnya dan gerakan mukena bersihnya Gita Saraswati.

Kita dapat bersilang pendapat bahwa tema tersebut bukan hanya domain satu dua orang, tetapi kita juga periu memberi permakluman bahwa merekalahyang identik dan masuk dalam subcontious kita. Lantas apa yg membuat seseorang identik dengan suatu amal? Saya menduganya lewat satu kata, profesionalisme. Dikarenakan ripitasi dan ketekunannya maka suatu amal melekat dan menjadi bagian dari dtra seseorang…menjadi profesinya.

Dan benarlah pendapat yang mengatakan bahwa dakwah amat dekat dengan profesionalisme. “Memang seperti itulah dakwah. Dakwah adalah dnta dan anta akan meminta semua darimu. Sampai fikiranmu, perhatianmu, berjalan, duduk dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau tintai. (Ust Rahmat Abdullah).

Adakah yang bisa mencontohkan profesionalisme, melebihi seorang yang beriman?