ISEA, YBM BRI Kuatkan Badan Usaha Milik Pesantren Sebagai Sosial Enterprise Terproduktif

SEAL1

DENPASAR, BALI— Indonesia sebagai Negara dengan jumlah populasi penduduk yang besar menjadikannya sebagai negara yang mempunyai potensi untuk selalu tumbuh pesat perekonomiannya, seperti halnya Tiongkok. Pertumbuhan ekonomi bangsa harus diimbangi dengan pemerataan distribusi pendapatan dan kekayaan di seluruh daerah dan seluruh lapisan masyarakat.

Distribusi pendapatan dan kekayaan yang tidak efisien akan menyebabkan ketidakadilan dan kemiskinan dalam masyarakat. Dalam perekonomian pasar bebas, pasar bisa bebas menentukan alokasi sumber dayanya. Dan, dalam masyarakat kapitalis murni, problem sosial, ketidaksetaraan dan kemiskinan meningkat sebagai akibat adanya kegagalan pasar. Dalam hal kegagalan pasar bercampur dengan kegagalan pemerintah, maka distribusi pendapatan dan kesejahteraan menjadi semakin tidak setara, sehingga menghasilkan kemiskinan yang akan meningkatkan ketimpangan pendapatan. (Selasa-Jumat, 26-29/09)

Upaya mengatasi ketimpangan kesejahteraan sosial di masyarakat banyak dilakukan, selain oleh pemerintah juga melalui keswadayaan masyarakat yang dilakukan melalui berbagai cara dan strategi. Salah satu upaya yang sekarang banyak berkembang adalah melalui pendekatan Kewirausahaan Sosial (Social entrepreneurship), di mana upaya-upaya untuk menyelesaikan permasalahan sosial, pengentasan kemiskinan dilakukan dengan pendekatan bisnis. Kewirausahaan sosial mencoba mendekati penyelesaian permasalahan dengan mengintegrasikan 2 (dua) misi, yaitu dengan tujuan pencapaian misi sosial, pelaku social enterprise melakukan upaya dengan menjalankan operasional bisnis. Pendekatan ini dipandang akan efektif tercapai karena masyarakat sasaran akan secara langsung terlibat secara produktif menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

Menurut Iqbal Dwi Noviawan General Manager Yayasan Baitul Maal Bank Rakyat Indonesia (YBM BRI) mengatakan, “Kami juga mendapat banyak inspirasi terkait dengan metode pengukuran dampak program yang telah dilakukan oleh para praktisi Social enterprise utk mengevaluasi serta mempublikasi program mereka”.

“YBM BRI memiliki program Social enterprise diantaranya adalah Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP), dengan keuntungan usaha yang di investasikan oleh YBM BRI digunakan untuk keberlanjutan usaha serta membantu kebutuhan operasional pondok pesantren”, lanjut Iqbal Dwi Noviawan.
Untuk menguatkan peran ISEA dalam pengembangan social enterprenuerhsip di Asia, secara periodik diadakan pertemuan, penelitian, diseminasi, dan konferensi terkait isu-isu SE. Tahun ini diselenggarakan SEAL ( Conference yang ke-2). Kehadiran SEAL (Social Enterprise Advocacy and Leveraging) Internasional Conference di Bali dengan penyelenggara Dompet Dhuafa dan Bina Swadaya ini merupakan wujud kepercayaan dunia pada lembaga Nasional sekelas Dompet Dhuafa dan Bina Swadaya dalam mewujudkan dan mengembangan Sosial Enterprise. Event SEAL Conference Internasional ini akan diikuti oleh pelaku, SE, akademisi, NGO, badan PBB, serta lembaga-lembaga yang berfokus dalam pengembangan SE dari berbagai Negara, yaitu antara lain dari Indonesia, Philipina, Thailand, Vietnam, India, Bangladesh, India, Jepang, Nepal, Taiwan dan Singapura.

Saat ini sosial enterprise masih banyak kendala dalam mengembangkan di tengah-tengah masyarakat baik masalah penjualan, permodalan hingga pendistribusian hal ini merujuk pada perkembangan pemasaran yang kurang mendapatkan perhatian, misalkan penjualan kopi yang berasal dari Kintamani, jika dipasarkan hanya untuk lokal saja maka dimungkinkan tingkat pasar kopi tidak akan meningkat beda halnya dengan pemasaran jika dilakukan ke tingkat luar negeri maupun luar daerah hal ini akan mempengaruhi peningkatan produk dan ekonomi masyarakat tersebut.

Posted in Berbagi Syiar Rakyat Indonesia, Berita.