YBM BRI Ubah Mustahik menjadi Muzaki

ChanelMuslim.Com – Dalam menyalurkan dana Zakat Infak Wakaf dan Sadaqah (Ziswaf) dari karyawan Bank Rakyat Indonesia (BRI), Yayasan Baitul Mal Bank Rakyat Indonesia (YBM BRI) memiliki Program Berbagi Sejahtera Rakyat Indonesia. Program ini menjadi salah satu program pemberdayaan YBM BRI dalam bidang ekonomi.

Salah satu program YBM BRI yang sedang berjalan saat ini berada di kawasan Lampung dan berlangsung di wilayah kerja Kantor BRI Bandar Lampung.

“YBM BRI menggulirkan bantuan berupa bantuan yang bersifat sosial dan bantuan yg mendorong agar mustahik (penerima zakat) dapat menjadi muzaki (pemberi zakat) di kemudian hari,” ujar Tri Wintarto selaku ketua YBM BRI saat ditemui di kawasan Pesantren Royadlatul Falahin, Jalan Ki Ageng Srimulyo Kalirejo, Lampung Tengah, sabtu (8/4) lalu.

Untuk program unggulan YBM BRI yang berada di kawasan Lampung, salah satunya adalah BUMP (Badan Usaha Milik Pesantren) Jamur Tiram ponpes Darun Nasyi’in yang berlokasi di desa bumi jawa, kec. Batanghari nuban, kab. Lampung timur.

Sejak 2014, YBM BRI menjadikan Pondok pesantren sebagai basis bergulirnya bantuan-bantuan yang diberikan baik di Lampung maupun di seluruh Indonesia. Selain itu, setiap program yg diadakan pada setiap kanwil adalah hasil dari rencana kerja tahunan yang telah disetujui oleh Badan Pengurus YBM BRI Kantor Pusat dihadapan Badan Pengurus YBM BRI Kantor Wilayah .

“Sepanjang tahun 2016, YBM BRI di Kanwil Bandar Lampung telah menyalurkan bantuan kepada 7 Pondok Pesantren, 6 org marbot binaan, 101 penerima beasiswa reguler, 2 kelompok KUUR, 9 BUMP, 1PKUR dan program2 yang terselenggara dalam rangka HUT BRI 121dan Ramadhan yaitu: Berbagi kacamata, Bazar Ramadhan, bedah warung, difabel punya karya, gerobak bersemangat dan pasar rakyat,” tuturnya.

Program Pelatihan Keterampilan Usaha Rakyat (PKUR) YBM BRI bidik Ibu-Ibu Rumah Tangga dan Anak Muda

ChanelMuslim.Com – Yayasan Baitul Maal Bank Rakyat Indonesia (YBM BRI) memiliki Program Berbagi Sejahtera Rakyat Indonesia. Program ini menjadi salah satu program pemberdayaan YBM BRI dalam bidang ekonomi.

Program ini merupakan ujung tombak dalam upaya mengangkat Mustahik (kelompok masyarakat penerima zakat) menjadi Muzakki (kelompok yang memberi zakat). Salah satu program unggulan dari pemberdayaan ekonomi itu adalah program Pelatihan Keterampilan Usaha Rakyat (PKUR).

Salah satu yang sudah menerima manfaat dari YBM BRI adalah usaha jahit rumahan Neng’s Creative Home di Jalan Purnawirawan Gg. Swadaya 3 No. 54,Kelurahan Gunung Terang Kecamatan Langkapura, Bandar Lampung.

Program yang memang ditujukan kepada masyarakat umum yang masih menerima manfaat dari penyaluran zakat ini pun membidik ibu-ibu rumah tangga atau anak-anak muda guna mendapatkan pelatihan dan ketrampilan.

Neneng yang merupakan penjahit di Neng’s Creative Home mengaku akan membuat jilbab instan untuk menyambut bulan Ramadhan.

“Selain jilbab, ingin membuat baju anak-anak dari kain percak,” ujarnya.

Wanita berhijab ini juga berkeinginan untuk memantapkan ide agar produknya bisa dijual dalam julmah yang besar.

 “Sekarang, kalo ada yang pesan aja baru kita buat. Tapi juga terkadang beli bahan dan coba-coba untuk buat sendiri lalu ditawarkan kepada tetangga,” ujarnya.

Untuk pembuatan dari bahan sampai dengan jadi bentukan baju, para penjahit yang juga berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini mengaku tidak sampai memakan waktu seminggu.

“Kalo kerjaan rumah, ngurus anak udah beres. Biasanya cuma 2 hari aja,” tutupnya.

Merajut Kembali Semangat Indrawati Lewat ‘Benah Warung YBM-BRI’

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU — Menjadi sosok tulang punggung keluarga, Indrawati (42 tahun), harus menjadi penopang perekonomian keluarga. Suami dan tiga anaknya, semua tergantung pendapatnya dari warung Pondok Ikan Asin, sebagai keran rezekinya.

Sejak suaminya beberapa kali tertimpa musibah kecelakaan dan tidak dapat lagi bekerja keras, Indrawati menjadi tulang punggung keluarga. Untuk terus melanjutkan perputaran ekonomi keluarga dan biaya pendidikan ketiga anaknya,semua bergantung pada keuletan sosok perempuan tangguh dari Pematang Kapau, Tenayan Raya, Pekanbaru, Riau ini. Perjalanan kehidupannya semakin berat setelah terusir dari kontrakan, lantaran menunggak bayar. Bahkan, putri sulungnya terpaksa bertahan mengenakan seragam SMP, saat masuk ke jenjang pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan. Namun ia tak pantang menyerah.

“Alhamdulillah, walaupun banyak rintangan dalam kehidupan keluarga saya, masih banyak orang yang peduli. Setelah terusir dari kontrakan, kebetulan ada yang tergerak hatinya untuk meminjami saya ruko yang menjadi cikal bakal warung ini. Tetapi ya belum rutin bukanya, karena modal saya kan terbatas,” cerita perempuan yang kerap disapa dengan nama Iin tersebut.

Kondisi warung yang seadanya dan jadwal buka yang tak menentu, tetapi memiliki cita rasa masakan yang niknat, semakin menambah donatur untuk tergerak membantunya. Salah satunya hadir melalui Yayasan Baitul Maal Bank Rakyat Indonesia (YBM-BRI). Program benah warung dan bantuan modal usaha pun bergulir memupuk semangat usaha Iin.

General Manager YBM-BRI Dwi Iqbal Noviawan mengatakan pihaknya tergerak untuk membantu Indarwati. Kegigihan dan semangatnya untuk menghidupi keluarga, menurut dia layak untuk dijaga. “Dari latar belakang tersebut, YBM-BRI melalui perwakilan wilayah Pekanbaru, menghadirkan program Benah Warung dan bantuan modal usaha. Semoga roda perekonomian keluarga Bu Iin terus bergerak dan menjadi rakyat yang sejahtera,” ungkap dia.

Berkah guliran program dari YBM-BRI yang diterima Indarwati, kini mulai terlihat manfaat berkelanjutan untuk usahanya. Warung makan ‘Pondok Ikan Asin Nayla’ yang ia rintis, semakin bervariasi jenis makanan yang ia jajakan. Kini usahanya terus berkembang baik, ramai, dan tentu penghasilan pun meningkat.

Pangkas Kebutaan Akibat Katarak Melalui BRI Melihat Dunia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Membantu menekan jumlah penderita kebutaan akibat katarak, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BRI) melalui Yayasan Baitul Maal BRI menggelar operasi gratis bagi 1.000 penderita katarak di seluruh Indonesia. Saat ini, angka kebutaan akibat katarak secara nasional masih tergolong tinggi.

Berdasar survei Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap 15 provinsi di Indonesia secara acak, angka kasus katarak rata-rata masih dua persen dari jumlah populasi. Padahal, untuk dapat dikatakan bebas katarak, angkanya harus turun menjadi 0,5 persen saja.

General Manager YBM-BRI Dwi Iqbal Noviawan menuturkan, untuk menekan angka katarak di Indonesia, Bank Rakyat Indonesia melalui Yayasan Baitul Maal BRI (YBM-BRI) dan BRIMEDIKA menggelar bakti sosial operasi katarak gratis untuk 1.000 pasien di 19 kantor wilayah BRI seluruh Indonesia. Gelaran tersebut berlangsung sejak November 2016 dan akan ditutup pada 2017 ini. Bakti sosial ini merupakan rangkaian dari kemeriahan HUT BRI ke 121.

Tak diduga, gelaran yang mengusung tema ‘BRI Melihat Dunia’ dibanjiri pendaftar operasi. Di Kanwil Jakarta 1, pasien yang mendaftar lebih dari 200 orang. Padahal, kuota yang tersedia untuk kanwil tersebut hanya 70 orang saja. Tentu pasien yang mendaftar harus melalui tahapan seleksi terlebih dahulu.

“Alhamdulillah, sebagai wujud syukur bertambahnya usia BRI, kami dapat menggelar baksos operasi katarak untuk masyarakat tidak mampu di Indonesia, khususnya DKI Jakarta,” ungkap Iqbal melalui keterangan tertulis kepada //Republika//, Rabu (22/3).

YBM-BRI tidak menyangka kalau antusias pasien yang mendaftar luar biasa bahkan tiga kali lipat dari kuota yang disediakan. YBM-BRI berharap, semoga ke depan mereka dapat meningkatkan kuota pasien operasi katarak gratis ini agar masyarakat Indonesia bebas dari kebutaan karena katarak.

YBM-BRI dan BRIMEDIKA menjadwalkan secara bertahap operasi katarak kali ini. 70 pasien yang lolos seleksi akan melangsungkan operasinya di RSPAD Gatot Subroto yang sudah menjalin kerjasama dengan BRIMEDIKA.

Salah satu pasien operasi katarak gratis BRI asal Sunter, Jakarta, Raharjo (62 tahun) sangat terharu dengan bantuan ini. Ia tidak menyangka matanya dapat melihat kembali dengan normal. Ia berterima kasih kepada BRI yang telah memfasilitasi operasi katarak gratis ini untuknya. “Sudah lama saya ingin bisa melihat normal seperti ini. Tapi kembali lagi, terkendala biaya. Sekali lagi, terima kasih,” tutur Raharjo.

 

YBM BRI Merespons Cepat Tanggap Bencana dengan Survival Kits

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA — Curah hujan tinggi terus mengguyur sejumlah wilayah Indonesia sejak akhir tahun lalu. Bahkan hingga Februari ini, intensitas hujan yang tinggi, masih terjadi. Dampaknya, sejumlah kota dilanda banjir. Terakhir, kawasan Ibu Kota dan kota penyangga lainnya, turut terendam banjir.

Sejumlah relawan turut serta terjun dalam penanganan bencana banjir. Salah satunya adalah YBM-BRI, yang selalu konsisten menghadirkan respons tanggap bencana. Bantuan demi bantuan digulirkan YBM-BRI sebagai wujud keterlibatan tanggap bencana.

“Alhamdulillah melalui seluruh cabang di kantor wilayah di Indonesia, YBM-BRI selalu terlibat dalam tanggap bencana. Dari banjir bandang Garut, Bima, Sumbawa, Brebes, dan terakhir di Ibukota, kami selalu kerahkan tim,” kata Dwi Iqbal Noviawan, General Manager YBM-BRI, dalam keterangan persnya kepada Republika.co.id, Kamis (23/2).

Di awal respons, kata Iqbal, YBM-BRI selalu memastikan kebutuhan dasar para korban terpenuhi. Setelah itu, jika diperlukan baru di masa pemulihan akan gulirkan program jangka panjang melalui potensi ekonomi yang ada di lokasi bencana tersebut.

Bahkan, untuk menguatkan ‘Semangat Berindonesia’ dalam tanggap bencana, pada 2014 YBM-BRI menyiapkan “Survival Kits” untuk korban bencana. Itu menjadi standar bantuan di awal bencana dari YBM-BRI.

“Ya, sejak 2014 kami membuat standae bantuan kebencanaan berupa Survival Kits. Paket tersebut berisikan kebutuhan dasar yang mendesak pada saat terjadi bencana dan korban terpaksa mengungsi,” ujarnya.

Di dalam Survival Kits, pihaknya menyiapkan selimut, obat-obatan, pembalut wanita, dan pakaian ganti. Kemudian di 2017 ini, YBM BRI menambahkan isi paket dengan BiskuNEO. Sebuah makanan kaya nutrisi yang siap santap. BiskuNEO merupaka inovasi bersama yang YBM-BRI kembangkan bersama BPPT.

“Paket terbaru dari Survival Kits sudah kami coba distribusikan di pos pengungsian korban banjir RW 04 Cipinang Melayu, Jakarta Timur, kemarin,” tambah Iqbal.

Dengan luasnya jaringan YBM-BRI yang tersebar di seluruh Indonesia, maka informasi dan tanggap bencana akan direspon secepat mungkin. Sehingga YBM-BRI memaksimalkan peranan sebagai katalisator penggerak potensi BRI. Kemudian terus dapat mengepakkan semangat manfaat berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

 

Pemberdayaan Ekonomi dan Pesantren Jadi Andalan YBM BRI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Yayasan Baitul Maal (YBM) BRI masih mengjagokan program pemberdayaan ekonomi dan pesantren. Kedua program ini sama-sama ditujukan meningkatkan kemandirian penerima manfaat.

Ketua Yayasan Baitul Mal (YBM) BRI Tri Wintarto menjelaskan program unggulan YBM BRI masih pada pemberdayaan ekonomi dan pesantren. Pesantren banyak yang bisa dibantu terutama mereka yang dhuafa baik bantuan bagi santri, pengajar, maupun bantuan pembentukan badan usaha milik pesantren (BUMP) agar pesantren bisa mandiri ekonominya.

Pemberdayaan ekonomi dilakukan dengan membuat kelompok usaha terutama ibu-ibu. Mereka diberi pelatihan dan diberi bantuan modal. Sambil jalan, mereka tetap dikawal dan dibina sampai produknya siap dipasarkan.

“Pelatihannya macam-macam, bengkel otomotif, pemanfaatan limbah untuk kriya, tata rias, jahit, potong rambut, ada juga tani. Apa yang sekiranya laku dipasarkan di daerah tersebut,” kata Tri di sela-sela Workshop pengurus YBM BRI seluruh Indonesia di Kawasan Slipi.

YBM BRI Berdayakan Pesantren Pertama Pendidik Suku Baduy

REPUBLIKA.CO.ID, BANTEN — Berperan mendidik anak-anak Suku Baduy di Banten, Yayasan Baitul Maal (YBM) BRI memberdayakan Pesantren Sultan Hasanuddin melalui beasiswa dan program ekonomi.

Pelaksana Harian YBM BRI Kanwil Jakarta 3, Chandra Dispratomo, menuturkan, di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, berdiri Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin, yang memiliki 110 santri putra dan putri. Kecamatan Leuwidamar juga dikenal dengan sebutan wilayah Suku Baduy sebab sebagian besar Suku Baduy menetap di sana.

Di sana juga Pesantren Sultan Hasamuddin rintisan Kyai Zainudin Amir, telah lama merangkul anak-anak Suku Baduy. Perlahan dengan pasti, pembekalan ilmu dan pengetahuan Agama Islam, tertanam di anak-anak Baduy.

Melihat aktivitas Suku Baduy yang nomaden dan belum banyak merasakan pendidikan, melatar belakangi Kyai Zainudin mendirikan Pesantren Sultan Hasanuddin yang dirintis pada 1985. Telah lebih dari 30 tahun, Pesantren Sultan Hasanuddin konsisten membumikan Islam di Tanah Baduy melalui dakwah keliling ke seluruh pelosok Banten.

”Melihat konsistensi tersebut, YBM BRI melalui program beasiswa kami menyuntikkan semangat belajar bagi santri di pesantren binaan Kyai Zainudin tersebut. Ada 30 santri penerima beasiswa dimana 20 di antaranya adalah anak Suku Baduy,” ungkap Chandra dalam keterangan tertulis kepada Republika, Senin (20/2).

Selain beasiswa, YBM BRI pada akhir 2015 memberikan bantuan berupa pembuatan fasilitas MCK baik bagi pondok pesantren maupun masyarakat umum. Santri-santri juga diberikan bibit jahe merah dan pembekalan penanamannya oleh YBM BRI.

Luas area tanam jahe merah sekitar 200 meter persegi dan mampu menghasilkan sekitar dua ton jahe merah saat panen. Jahe merah dijual ke Pasar Ciboleger dan keuntungannya digunakan untuk membantu biaya operasional pesantren.

 

YBM BRI Bantu Ponpes Hidayatullah Deli Serdang

REPUBLIKA.CO.ID, DELI SERDANG — Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah dibangun dengan semangat dakwah dan tarbiyah sang pendiri, Ustaz Abdullah Said. Ponpes ini dibangun pada Januari 1973 yang bermula dari rumah kontrakan dengan jumlah santri sembilan orang.

Namun, dalam perkembangannya, ponpes ini telah menyebarkan dai-dainya ke pelosok Medan, Sumatra Utara. Tersebutlah nama KH Choirul Anam atau akrab disapa Kiai Cholil. Ia adalah sebagai dai pelopor dalam upaya menanamkan bibit unggul dakwah.

Terbukti, pada 1993, perjuangan Kiai Choil membuahkan hasil dengan berdirinya ponpes berkonsep ic Green Village. Ponpes modern Hidayatullah ini berdiri di atas lahan seluas 7,3 hektare. Bahkan, pendiriannya pun telah tertulis dalam SK Kemenag Provinsi Sumut No 450/2010 untuk MTs dan SKM Kemenag Sumut No 461/2010 untuk MA.

Berdasarkan data tahun ajaran 2014-2015, ponpes ini membina sebanyak 615 santri tingkat MI, 300 santri tingkat MTs, dan 150 santri tingkat MA. Dari keseluruhan santri itu, sekitar 200 orang tergolong kaum dhuafa. Mereka pun dibebaskan dari biaya pendidikan, biaya asrama serta biaya listrik dan air selama menempuh pendidikannya.

Ketua Badan Pengurus Yayasan Baitul Maal (TBM) BRI H Tri Wintarto mengatakan, sejak tahun 2014, YBM BRI mencoba untuk peduli melakukan pemberdayaan ponpes dan menjadikannya sebagai program unggulan melalui integrasi program pemberdayaan berbasis ponpes. 

Ikhtiar YBM BRI mendukung dan turut membantu ponpes antara lain diwujudkan dengan bantuan beasiswa santri, apresiasi pendidik, pembangunan sarana dan prasarana dan badan usaha milik ponpes (BUMP). “Dengan adanya integrasi itu, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan ponpes serta masyarakat di sekitarnya,” kata Tri saat melakukan kunjungan ke kantor Republika, belum lama ini.

Salah satu yang mendapatkan bantuan dari program YBM BRI itu adalah Ponpes Hidayatullah Medan. Ponpes ini selain aktif berdakwah dengan program ‘dakwah tebar dai pelosok’ yang dilakukan ke pedalaman Sumatra Utara, juga melakukan pembinaan secara intensif kepada para mualaf.

Di samping itu, kata Tri, ponpes juga melakukan pembinaan pada seluruh santrinya dengan usaha produktif berupa peternakan ikan lele Sangkurian, penanaman palawija, dan usaha warung makan. “YBM BRI pun mendukung dan turut membantu ponpes,” ujarnya. Bantuan yang diberikan di antaranya berupa beasiswa Rp 56 juta, apresiasi pendidik Rp 20 juta serta rehabilitasi kamar mandi ponpes Rp 55,39 juta.

Ini Cara YBM BRI Ubah Mustahik Menjadi Muzaki

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dalam menyalurkan dana Zakat Infak Wakaf dan Sadaqah (Ziswaf) dari karyawan Bank Rakyat Indonesia (BRI), Yayasan Baitul Mal Bank Rakyat Indonesia (YBM BRI) memiliki Program Berbagi Sejahtera Rakyat Indonesia. Program ini menjadi salah satu program pemberdayaan YBM BRI dalam bidang ekonomi. 

Program ini merupakan ujung tombak dalam upaya mengangkat Mustahik (kelompok masyarakat penerima zakat) menjadi Muzakki (kelompok yang memberi zakat). Salah satu program unggulan dari pemberdayaan ekonomi itu adalah program Pelatihan Ketrampilan Usaha Rakyat (PKUR).

Menurut Ketua YBM BRI, Tri Wintarto, program ini memang ditujukan kepada masyarakat umum yang masih menerima manfaat dari penyaluran zakat. Program ini pun membidik ibu-ibu rumah tangga atau anak-anak muda guna mendapatkan pelatihan dan ketrampilan. 

Para penerima manfaat itu akan dikumpulkan untuk mendapatkan pelatihan ketrampilan. “Jadi kami kumpulkan, kami latih, kemudian apa yang kira-kira laku, kami latih sesuai dengan keterampilan kalau dijual di situ bisa laku,” kata Tri saat bersilaturami ke Kantor Harian Umum Republika, Kamis (2/2).

Ketrampilan itu, ujar Tri, tentu akan disesuaikan dengan potensi pasar yang ada, seperti ketrampilan menjahit, cukur rambut, memperbaiki motor, atau bahkan bercocok tanam. Selain diberikan pelatihan, para penerima manfaat tersebut juga akan diberikan modal usaha. Selain itu, selama melakoni usaha tersebut, YBM BRI akan terus melakukan pendampingan. 

“Secara ringkas, kami juga mendorong kewirausahaan dari mereka,” katanya.

Dengan program yang telah berjalan sejak awal 2016 tersebut, para penerima manfaat diharapkan bisa merintis usaha dan akhirnya mampu mandiri secara ekonomi. Bahkan, bukan tidak mungkin, para penerima manfaat tersebut nantinya bisa mengajukan kredit usaha ke bank guna mengembangkan usahanya.

YBM BRI Usung Program Badan Usaha Milik Pesantren

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pengembangan ekonomi Pesantren menjadi salah satu program yang diusung Yayasan Baitul Mal-Bank Rakyat Indonesia (YBM-BRI) dalam hal pemberdayaan berbasis Pondok Pesantren.

Ketua YBM-BRI Tri Wintarto mengatakan, upaya pengembangan ekonomi pesantren adalah dengan pembentukan Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP). Lembaga ini diharapkan dapat menjadi jawaban bagi pondok pesantren dalam memenuhi kas dan membiayai operasional dari pesantren tersebut.

Sehingga, secara perlahan, pondok pesantren akhirnya dapat benar-benar mandiri. “Kenapa Badan Usaha? Karena kami berharap, suatu saat ini menjadi besar, bukan sekadar buat warung, tapi kami buatkan lembaga terlebih dahulu,” ujar Tri saat bersilaturami ke Kantor Harian Umum Republika, Kamis (2/2).

Tri mengungkapkan, struktur pengurus dari BUMP itu juga akan dibentuk langsung dari pihak Pondok Pesantren. Tidak hanya memberikan bantuan modal usaha, YBM-BRI juga akan memberikan bantuan berupa pelatihan terkait usaha yang telah dipilih BUMP tersebut. Kemudian pihak YBM BRI akan membantu melakukan analisa pengembangan usaha. 

Selama ini, kata Tri, BRI memang telah dikenal dan memiliki kelebihan dalam hal pengembangan usaha. “Jadi itu yang kami manfaatkan. Kira-kira di situ potensinya apa, dibutuhkan ketrampilan seperti apa, pasarnya seperti apa? Itu kami bantu. Jadi kurang lebih seperti analisa pengembangan usaha,” tuturnya.

Program BUMP ini sudah berjalan selama tiga tahun dan setidaknya sudah ada sekitar 203 BUMP yang menjadi binaan YBM-BRI. Dalam mengembangkan usahanya, setiap BUMP diberikan waktu selama tiga tahun. Dalam rentang waktu tersebut, BUMP bisa terus melakukan penyesuaian jenis usaha yang diperkirakan dapat bertahan.

Selain pemberian bantuan modal usaha dan pembentukan BUMP, YBM BRI juga memberikan bantuan dalam bentuk pemberian beasiswa terhadap santri dan ustaz, serta pembangunan sarana dan prasarana pendidikan di Pondok Pesantren tersebut.

YBM BRI adalah lembaga amil zakat yang menghimpun dan menyalurkan dana zakat infaq dan sadaqah (Ziswaf) dari karyawan-karyawan BRI.