YBM_AlBarokah Air Isi Ulang1

BUMP Al Barokah, Hadirkan Air Minum Isi Ulang Nan Menyehatkan

YBM_AlBarokah Air Isi Ulang1

LAMPUNG — Yayasan Baitul Maal Bank Rakyat Indonesia (YBM-BRI) terus berupaya menghadirkan program pemberdayaan berbasis pesantren. Dengan memilih lokasi di Pondok Pesantren Al Barokah, Poncowarno, Kalirejo, Lampung Tengah. Kali ini YBM-BRI menghadirkan Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP) air minum isi ulang.

Bahkan, saat peninjauan langsung oleh pengurus pusat YBM-BRI ke lokasi BUMP Al Barokah, usaha air minum isi ulang tersebut semakin produktif. Semakin banyak konsumen yang menikmati air minum isi ulang dari BUMP Pondok Pesantren tersebut. Sehingga memiliki manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sekitar, khusunya keluarga pesantren tersebut.

YBM_AlBarokah Air Isi Ulang4“Alhamdulillah saat kami meninjau langsung ke lokasi program, bagus sekali usaha ini. Memberikan banyak manfaat dan bisa dibilang laris manis. Mungkin karena ini spesial dari pondok, bisa saja plus dengan doa para santri yang tentu menyehatkan. Sehingga banyak yang cocok dengan kualitas air isi ulang dari BUMP Al Barokah ini. Semoga usaha ini terus memberikan manfaat berkelanjutan,” ungkap Tri Wintarto, Ketua Badan Pengurus YBM-BRI, saat mengunjungi beberapa program pemberdayaan di kawasan Lampung.
YBM_AlBarokah Air Isi Ulang3

 

Tak hanya menguntungkan bagi masyarakat. Keberadaan BUMP di Pondok Pesantren Al Barokah, juga membina dan memberikan tambahan ilmu bagi para santri dalam menjalankan wirausaha. Sehingga semakin banyak bekal ilmu saat nyantri di Al Barokah.

Integrasi Program Pemberdayaan Berbasis Pondok Pesantren

Integrasi Program Pemberdayaan Berbasis Pondok Pesantren 1

YBM-BRI pada tahun 2014 menjadikan Pondok Pesantren sebagai pusat pemberdayaan melalui Integrasi Program Pemberdayaan Berbasis Pondok Pesantren. Hingga akhir 2014, YBM-BRI telah melakukan asessment dan membina 53 pondok pesantren yang tersebar di Seluruh Indonesia. Pondok pesantren menerima bantuan dalam hal beasiswa; apresiasi pendidik; sarana prasarana; dan Badan Usaha Milik Pesantren.

Pada tahun 2015 YBM-BRI kembali melakukan asessment pondok pesantren di 19 Kanwil BRI yang dilaksanakan sejak tanggal 4 Mei 2015 hingga 13 Juni 2015 dengan target 151 pondok pesantren binaan di seluruh Indonesia. Berbeda dengan tahun 2014, pada pelaksanaan asessment tahun ini YBM-BRI bekerjasama dengan Kementrian Agama dan Kementrian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Integrasi Program Pemberdayaan Berbasis Pondok Pesantren 2

Asessment ini mengemban target penyaluran sebesar Rp 30.623.256.000 untuk bantuan dalam hal beasiswa; apresiasi pendidik; sarana prasarana; dan Badan Usaha Milik Pesantren. Jika pada tahun lalu proses asessment pondok pesantren menyisakan program ekonomi yang belum terimplementasikan di seluruh pondok pesantren, maka pada tahun ini tim asessment pondok pesantren sudah harus menetapkan program ekonomi apa yang akan di implementasikan pada pondok pesantren terpilih.

Untuk mendukung hal tersebut, Divisi Program Ekonomi menyusun Katalog Usaha Pondok Pesantren dan LKA (Lembar Kerja Asesor) Syarat Minimal Usaha beserta kunci jawabannya, yang kemudian dibawa oleh masing-masing tim sebagai panduan selama di lapangan. Selain katalog dan LKA Syarat Minimal Usaha, tim asessment pondok pesantren juga dilengkapi dengan LKA Pondok Pesantren untuk memudahkan proses asessment.
Pada saat yang bersamaan tim asessment pondok pesantren binaan tahun 2015, juga melakukan asessment untuk Program Badan Usaha Milik Pesantren di Pondok Pesantren binaan YBM-BRI tahun 2014 yang belum memiliki Badan Usaha Milik Pesantren.

Ponpes Darul Falah-Sidoarjo

Papan nama pengurus ranting sebuah partai menyambut kami di muka pondok darul falah 56. “Pak Yai enten?, demikian kata pembuka yang menggantikan salam. Sejurus kemudian sosok yang kami cari menyembul dari pintu musholla di sudut pondok.

Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan, kami menyeruput amdk non aqua sambil menunggu respon. Rupanya rangkaian kata dan penjelasan pak yai jauh dari perkiraan kami. Dengan sopan beliau menolak tawaran bantuan dari ybm.

Sekali lagi kami menyapu pandangan pada seluruh fisik pondok. Plafon yang mulai rontok, cat yang pudar, kamar mandi type YPA (yang penting ada, red), karpet mrudul dan dua lokal kelas kumuh multifungsi. Pak yai bersikukuh bahwa seluruh kebutuhan pondok sudah dipasrahkan pada Allah, setiap kali ada kebutuhan beliau menengadah dan mengadu dengan bahasa apa adanya. Allah begitu dekat.

Kami terus menggali, mencoba mencari jawab atas pertanyaan yg sedari tadi hanya berada di dalam batin. Beliau menjelaskan begitu sederhananya hidup, hanya fokus mengurus santri: tidak bekerja, tidak menjadi khatib, tidak mengisi pengajian lain dan tidak menerima sedekah ataupun pemberian dalam bentuk lain.

Syaikh abdul qadir jaelani yang menolak 2 kantong emas pemberian khalifah harun al rasyid menjadi landasan atas sikapnya menolak pemberian orang. Di mata Pak Yai hanya Allah lah satu-satunya penolong dan tempat bergantung. Langkah yang tidak masuk nalar akademis inilah yang justeru malah membawa pada jalan-jalan khas para abidin.

Kami meninggalkan pondok dengan sebuah pelajaran besar. Allah punya hajat begitupun kita. Jika kita mengikuti keinginanNya maka Allah akan memenuhi kebutuhan kita. Jika kita hanya menuruti keinginan kita, maka Dia Maha Kaya lagi Maha Sempurna.

Sambil mobil berjalan pelan menjauhi pondok, saya masih menyaksikan rumah Pak Yai yang lebih bagus dari rumah saya. Dan mesjid besarnya yang nampak akan sangat kokoh bila rampung kelak. Hidup menjadi sederhana bagi yang menyederhanakan. Dan seketika menjadi rumit bagi yang mengandalkan kepala semata. Dengan kesederhanaannya justeru kami melihat wajah Pak Yai yang tanpa beban hidup, mungkin karena seluruhnya sudah dipasrahkan padaNya. Wallahu alam.

Ponpes Al Munawaroh-Gresik

Aku menelisik lebih dalam, lurus pada sepatu yang akhir2 ini selalu tampak berdebu di bagian bawahnya. Jejak jerebu yang menggambarkan bahwa pondok pondok yang kami sambangi memang belum terjamah jalan permanen. Namun bisa juga dimaknai bahwa musim kemarau merata di pelosok negeri.

Modernisasi nampaknya bukan isyu penting bagi para kyai yang berkhidmat menghidupkan pondok, apatah lagi berita terbaru tentang gadget quadcore yg sudah tahan air.

“Sebulan setiap santri membayar uang makan seratus tiga puluh ribu”, demikian pak kyai meluncurkan statement sambil menarik nafas panjang. Aku mencoba berhitung lebih dalam dibanding perdebatan 4×6 atau 6×4 yang melambungkan siswa kelas dua dan profesor dari dua kampus terkemuka. Ya ini lebih esensi bagiku, bagaimana tidak.

Pertama, jika seluruh santri makan 3 kali dalam sehari maka biaya sekali makan sekitar 1.500. Angka itu jika dicoba belanjakan di jogja sekalipun mungkin hanya angkringan yang mampu menjawabnya.

Kedua, santri yang setiap hari mengkonsumsinya bukanlah santri kacangan. Didepan pondok terdapat spanduk sederhana yg mencantumkan nama santri yang menjuarai pelbagai lomba mtq internasional, yap internasional.

Santri disini alhamdulillah setiap kali mtq Diminta untuk mewakili banyak provinsi, demikian ujar pak yai. Byar pet, selama pembicaraan yg sepeminuman teh itu listrik berkali2 mati seolah memberi isyarat bahwa pondok itu memang layak dibantu.

Saya ini cuma numpang ngekos sama santri. Kalo rumah ya ndak punya, sempat mau beli ya tapi khawatir belum lunas sudah dipanggil Allah. Jadi yah sudah memutuskan untuk nyicil rumah di akhirat saja. Kata2 yang lurus tajam dan penuh makna meluncur begitu saja dari beliau. Saya tertusuk secara maknawi. Allah begitu indah menghias orang ini.

3 Ponpes Binaan YBM-BRI di Lampung

3 Ponpes Binaan YBM-BRI di Lampung

Jum’at, 14 November 2014, YBM-BRI menyerahkan bantuan dana pemberdayaan ponpes kepada 3 ponpes binaan YBM-BRI di Provinsi Lampung. Bantuan yang diserahkan secara simbolis oleh General Manager YBM-BRI, Dwi Iqbal Noviawan, ini diberikan kepada Pondok Pesantren Jabal An-Nur sebesar Rp 102.000.000,-, Pondok Pesantren Darul Hidayah sebesar Rp 171.016.000,- dan Pondok Pesantren Nurul Falah sebesar Rp 156.847.000,-.
Bantuan ini merupakan wujud komitmen YBM-BRI untuk memberdayakan ponpes melalui program pemberdayaan ponpes berbasis pondok pesantren. Nantinya, bantuan ini akan digunakan untuk beberapa bidang seperti pendidikan, kesehatan, sosial dakwah, dan ekonomi.
Dalam bidang pendidikan, misalnya, living cost untuk para santri. Setiap santri akan mendapatkan bantuan sekitar Rp 350 ribu-Rp 500/bulan. Untuk para asatidz juga mendapatkan insentif Rp 500ribu/bulan bagi yang sudah berkeluarga dan Rp 250ribu bagi yang belum berkeluarga.
YBM-BRI juga berkomitmen memperbaiki sarana pendidikan seperti kelas, asrama, dan toilet. Bahkan, ada juga program mitigasi bencana berbasis ponpes yang diadakan di beberapa ponpes yang terletak di daerah rawan bencana, seperti Jakarta yang rawan banjir.
Ponpes yang menerima program pemberdayaan ini dipilih berdasarkan beberapa kriteria, seperti telah memiliki izin operasional dari Kemenag, operasional ponpes yang dikelola sendiri, usia ponpes telah lebih dari tiga tahun, dan jumlah santri berkisar antara 50-250 orang.