Pemberdayaan Dana Zakat Dikaitkan Dengan 8 Asnaf Penerima Zakat

macam-macam-zakat-sekaligus-ukuran-zakatnya

Sumber foto : Google

Dalam ajaran islam yang berhak menerima zakat diantaranya asnaf yang delapan “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .”(At-Taubah:60)

Pertama fuqara masakin, fakir adalah orang yang membutukan dan tidak meminta-minta, sedangkan miskin adalah yang meminta minta. Kedua adalah amilin yaitu orang-orang yang bertugas mengambil zakat dari para muzakki dan mendistribusikan kepada mustahik, mereka itu adalah kelengkapan personil dan financial untuk mengelola zakat. Ketiga mualaf, adalah orang-orang yang sedang dilunakkan hatinya untuk memeluk islam, atau untuk menguatkan islamnya, atau untuk mencegah keburukan sikapnya terhadap kaum muslimin, atau mengharapkan dukungan dari kaum muslimin.

Ke empat adalah para budak, zakat juga dapat digunakan untuk membebaskan orang-orang yang sedang menjadi budak seperti membantu menyicil pembayaran sejumlah tertentu untuk pembebasan dirinya dari majikannya agar dapat hidup merdeka atau dengan membeli budak kemudian dimerdekakan.

Kelima Garimin (orang berhutang) Al-garim adalah orang yang berhutang dan tidak mampu untuk membayarnya, Al-garim dibagi dua yang pertama berhutang untuk dirinya sendiri seperti untuk kebutuhan primer pribadi atau orang-orang yang terkena musibah sehingga kehilangan hartanya. Yang kedua Al-garim untuk kemaslahatan orang lain seperti orang yang berhutang untuk mendamaikan muslim yang sedang berselisih.

Ke enam Fii Sabilillah yaitu orang-orang yang berjihad di jalan Allah misalnya menyampaikan dakwah dan melindungi umat islam. Zakat dapat disalurkan kepada lembaga-lembaga modern yang digunakan untuk membela agama Allah.

Ke tujuh ibnu sabil mereka adalah para musafir yang kehabisan biaya di negara lain, meskipun dia kaya di kampung halamannya. Mereka dapat menerima zakat sebesar biaya yang dapat mengantarkannya pulang ke negerinya meliputi ongkos dan perbekalan.

Hasil dari pengumpulan zakat hendaknya berputar, tidak lagi hanya sekadar untuk di konsumsi, akan tetapi perlu dimanfaatkan, agar dana hasil pengumpulan zakat menjadi produktif. Produktif disini maksudnya dapat menghasilkan sesuatu, menambah dan memperluas manfaat dari sesuatu.

Agar tujuan dari pemberian zakat tepat guna dan berdaya guna kepada asnaf yang delapan seperti yang di utarakan dalam surat At-Taubah ayat 60 tentu perlunya Amilin yang amanah yang mempunyai beberapa kemampuan seperti planning (perencanaan) ,organizing (pengorganisasian), Actuating (pelaksanaan) dan Controlling (pengawasan).

Potensi zakat, yang pelaksanaannya merupakan salah satu dari lima Rukun Islam, bisa mencapai jumlah yang besar. Namun sejauh ini pengorganisasian zakat tersebut belum optimal sehingga manfaatnya belum dapat dirasakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dana zakat bila dikelola dengan baik dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan menekan angka kemiskinan.

Pengelolaan zakat tidak hanya sekadar menyalurkannya begitu saja. Hendaknya pengelolaan zakat ini benar-benar membawa dampak yang signifikan bagi kehidupan penerima zakat. Sehingga ke depannya pengelolaan zakat yang professional bisa bersifat “memberi kail bukan umpan” kepada mereka yang berhak menerimanya sehingga yang semula mereka menjadi penerima zakat mampu merubah status ekonomi mereka dan mampu menjadikan kehidupan mereka yang lebih sejahtera.

Pemanfaatan dan pendayagunaan zakat dapat digolongkan ;

  1. Konsumtif tradisional, zakat dimanfaatkan dan digunakan langsung oleh mustahik untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya.
  2. Konsumtif kreatif, zakat yang diwujudkan dalam bentuk lain dari jenis barang semula, misalnya beasiswa, bantuan pendidikan.
  3. Produktif tradisional, yaitu zakat yang diberikan dalam bentuk barang-barang produksi seperti kambing/sapi, mesin produksi.
  4. Produktif kreatif, yaitu pendayagunaan zakat diwujudkan dalam bentuk modal bergulir bagi pedagang untuk berwirausaha.

Salah satu cara pengelolaan zakat yang efektif adalah dengan adanya program terarah sebagai tindak lanjut dari penyaluran zakat tersebut. Salah satu programnya adalah dengan program pengembangan masyarakat atau community program development.

Secara umum community development dapat didefinisikan sebagai kegiatan pengembangan masyarakat yang diarahkan untuk memperbesar akses masyarakat untuk mencapai kondisi sosial, ekonomi dan budaya yang lebih baik apabila dibandingkan dengan sebelum adanya kegiatan pembangunan. Sehingga masyarakat di tempat tersebut diharapkan menjadi lebih mandiri dengan kualitas kehidupan dan kesejahteraan yang lebih baik.

Dua sasaran yang ingin dicapai yaitu: sasaran kapasitas masyarakat dan sasaran kesejahteraan. Sasaran pertama yaitu kapasitas masyarakat dapat dicapai melalui upaya pemberdayaan (empowerment) agar anggota masyarakat dapat ikut dalam proses produksi atau institusi penunjang dalam proses produksi, kesetaraan (equity) dengan tidak membedakan status dan keahlian, keamanan (security), keberlanjutan (sustainability) dan kerjasama (cooperation) kesemuanya berjalan secara simultan.

Di lihat dari programnya maka pengembangan masyarakat mempunyai 3 keunggulan yang sekaligus menjadi karakter utamanya, diantaranya: berbasis masyarakat (community based), berbasis sumber daya setempat (local resource based) dan berkelanjutan (sustainable). Untuk itu setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika community development dijadikan sebagai salah satu program kegiatan yang merupakan penyaluran dari zakat itu sendiri di samping 3 hal di atas tadi.

Pertama, peran aktif masyarakat. Untuk pembinaan pengembangan masyarakat tentu saja tidak bisa sepenuhnya hanya dilakukan oleh badan pengelola zakat itu sendiri. Ia memerlukan bantuan dari luar. Misalnya saja tenaga ahli, LSM atau relawan dari lembaga Pengelola zakat itu sendiri. Dengan adanya peran aktif masyarakat itu sendiri setidaknya secara tidak langsung adanya badan atau perseorangan yang menjadi pengawas atau kontrol bagi program pengembangan masyarakat tersebut. Selain itu, dengan adanya peran aktif masyarakat, di antara mereka ada yang mampu menjadi pembimbing kegiatan pengembangan masyarakat tersebut sehingga membuat para penerima zakat bisa mengeluarkan ide-ide kreatif mereka, lebih mandiri dan tentu saja punya mental baja untuk memulai berwirausaha sendiri. Ini menjadi nilai lebih bagi mereka karena tidak ada konsekuensi rugi yang terlalu besar bagi mereka ketika tidak berhasil karena mereka masih dalam pembinaan badan amil zakat.

Kedua, lembaga pengelola zakat sebagai pihak pengontrol langsung. Hal ini bisa dilakukan dengan terjun langsung melihat perkembangan ke tempat pengembangan masyarakatnya. Selain itu, badan pengelola zakat juga mempunyai andil dalam membantu menghubungkan antara masyarakat yang dibina dengan lokasi pemasaran atau pihak yang mampu menampung untuk memasarkan hasil kreativitas para penerima zakat.

Ketiga, adanya pihak yang bersedia memasarkan atau menampung produk yang dihasilkan masyarakat. Faktor yang ketiga ini sangat penting mengingat produk mereka bukanlah sesuatu yang diciptakan kemudian hanya dibiarkan menumpuk tetapi ia perlu pengakuan dari pangsa pasar.

Akhirnya, pengelolaan zakat yang berbasis pengembangan masyarakat memang melibatkan banyak pihak untuk sebuah program yang berkelanjutan. Harapannya program yang berkelanjutan ini memang menghasilkan sebuah perbaikan dan peningkatan ekonomi yang signifikan buat masyarakat.

Pendayagunaan zakat bersifat edukatif, produktif, dan ekonomis agar para mustahik pada suatu masa tidak memerlukan zakat lagi, dan diharapkan perlahan menjadi muzzaki.

Penulis

Nama : Ratih Hantari