Bantuan Karpet Untuk Masjid Jami Al-Jihad

bantuan Karpet

Senin, 30 Maret 2015, YBM-BRI menyerahkan bantuan berupa 5 gulung karpet untuk Masjid Jami Al-Jihad di Kelurahan Aren Jaya, Kota Bekasi. Bantuan diserahkan oleh Irfanul Arifin (Staf Monev Divisi Sosial YBM-BRI) kepada Subur Subagjawan (Koordinator Seksi Dakwah Masjid Jami Al-Jihad).

Pemberian bantuan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian YBM-BRI untuk sarana ibadah yang membutuhkan kelengkapan sarana dan pra sarana. Program ini termasuk ke dalam Program Berbagi Syiar Rakyat Indonesia.

Entaskan Gizi Buruk, YBM-BRI Gelar Program Kebun Gizi

Entaskan Gizi Buruk, YBM-BRI Gelar Program Kebun Gizi

Boyolali, 28 Maret 2015. Sebagai lanjutan dari program pemberian makanan tambahan kepada anak sekolah di Kecamatan Banyudono dan Nogosari, YBM-BRI kali ini menyerahkan bantuan paket kebun gizi kepada 40 keluarga dari Kecamatan Banyudono dan Nogosari di Balai Desa Denggungan, Banyudono. Bantuan yang diserahkan berupa 40 paket kebun gizi yang terdiri dari 75 polybag berisi empat jenis tanaman sayur, yakni kacang panjang, sawi, bayam dan tomat. Acara tersebut dihadiri oleh Ibu Rita Puspitasari (Camat Banyudono) dan Moyo Cahyadi (Pelaksana Harian YBM-BRI Kanwil).

Dengan adanya kebun gizi, keluarga bisa melakukan pencegahan dengan bahan pangan bergizi yang ditanam di pekarangan rumah. Camat Banyudono, Ibu Rita Puspitasari menambahkan, gizi kurang atau gizi buruk tak selalu disebabkan kurangnya ketersedian pangan. Kurangnya perhatian terhadap kebutuhan gizi juga menjadi sebab adanya anak penderita kurang gizi dan gizi buruk. Oleh sebab itu, dengan pemanfaatan pekarangan rumah sebagai penghasil tanaman bergizi, orang tua bisa menghasilkan bahan pangan yang sehat dan bergizi untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. “Semoga saja di Kecamatan Banyudono, program ini diperluas lagi,” ucap Rita.

Pelatihan Tahsin Metode Maisura Bandar Lampung

Pelatihan tahsin metode maisura

Bandar Lampung, 28 Maret 2015 YBM-BRI menyelenggarakan Pelatihan Tahsin dan Tartil Al-Qur’an Metode Maisura yang menghadirkan penemu Metode Maisura, Dr. H. Ahmad Fathoni, Lc., MA. Acara ini diikuti oleh 65 peserta yang merupakan guru mengaji, Imam Masjid dan Qori.

Kanwil BRI Bandar Lampung adalah Kanwil BRI ke-17 yang menyelenggarakan Pelatihan Tahsin dan Tartil Al-Qur’an Metode Maisura. Acara ini disambut baik oleh seluruh peserta hal ini terbukti dari antusiasme peserta yang terlihat sepanjang acara.

YBM-BRI Beri Pelatihan Alquran Metode Maisura

Yayasan Baitul Maal (YBM) Bank Rakyat Indonesia (BRI) menggelar pelatihan tahsin tartil Alquran dengan metode Maisura di Bandar Lampung, Sabtu (28/3).

“Pelatihan ini diajarkan langsung penemu Metode Maisura, Dr  Ahmad Fathoni. Jadi, banyak sekali manfaatnya bagi guru mengaji, guru TPA madrasah, pondok pesantren dan qori atau imam masjid,” kata Manajer Sosial YBM Deden Kuswandi, Sabtu (28/3).

Sebanyak 65 peserta dari berbagai sekolah, pondok pesantren, masjid, dan qori, mengikuti pelatihan yang dilaksanakan dua hari.

Ia mengatakan, pelatihan tahsin tartil metode Maisura di Lampung ini sudah yang ke-17 digelar di seluruh Kanwil BRI di Indonesia.

Pelatihan ini sudah berjalan sejak tahun 2013, dan telah berhasil melulusan ribuan peserta dari berbagai kalangan pencinta Alquran.

Ahmad Fathoni, adalah ustadz yang menemukan dan menulis buku Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Alquran Metode Maisura. Ia mempelajari Alquran dengan sanad ke-31 dari Rasulullah SAW.

Ustadz berusia 65 tahun ini, mendatangi langsung peserta pelatihan untuk memberikan ilmunya kepada para pengajar, imam, qori, dan guru-guru TPA.

YBM BRI mengelola dana zakat dari pegawai BRI di seluruh Indonesia. Penghimpunan dana ini dikelola untuk empat kegiatan. Pertama, program pendidikan. Kedua, kesehatan. Ketiga, sosial & dakwah. Keempat, program pemberdayaan ekonomi.

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID  Rep: Maspril Aries/ Red: Indah Wulandari

Soft Launching Kelompok Usaha Garam Brilliant

Soft Launching Kelompok Usaha Garam Brilliant

Cirebon, 24 Maret 2015 YBM-BRI menyelenggarakan Soft Launching Program Ekonomi Kelompok Usaha Garam Brilliant yang dihadiri oleh Ibu Septi (Dinas Kelautan dan Perikanan Cirebon), Bapak Aminan (Kepala Desa Barisan Kab. Cirebon)t dan K. H. Mukmin (Pembina Jamiah MUI).

Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya memperkenalkan lebih dekat program YBM-BRI kepada masyarakat dan tokoh setempat. Juga sebagai upaya untuk memperkenalkan komunitas usaha garam Brilliant kepada dinas terkait, yang diharapkan untuk turut memberikan konstribusi dan mendukung keberlangsungan program.

Komunitas usaha garam ini dibentuk pada bulan Januari 2015 atas kerjasama YBM-BRI dan Fatayat NU (Organisasi Kewanitaan Nahdatul Ulama) Cabang Cirebon. Sebagai realisasi Program HUT BRI 119.

Monitoring Dan Evaluasi Bantuan Rutin Lembaga

Monitoring Dan Evaluasi Bantuan Rutin Lembaga

Sepanjang bulan Maret 2015 YBM-BRI melaksanakan monitoring terhadap 28 lembaga dan yayasan yang mendapat bantuan rutin dari YBM-BRI. Hal ini dilaksanakan sebagai upaya untuk memastikan bahwa bantuan yang diberikan oleh YBM-BRI telah tepat sasaran.

Salah satu lembaga penerima bantuan rutin ini adalah Panti Asuhan Nurul Azhar yang beralamat di Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi. Saat ini terdapat 202 anak yang dibina di panti asuhan. Anak-anak yang dibina merupakan yatim dan dhuafa. Biaya operasional panti asuhan diperoleh dari donatur, masyarakat, dan pemerintah.

Panti asuhan menerima bantuan 500 kg beras setiap akhir bulan. Beras yang dikirimkan merupakan beras Cilamaya-Karawang dengan kualitas terbaik. Beras yang dikirim biasanya habis dalam waktu kurang dari dua minggu mengingat kebutuhan beras di panti asuhan sangat besar. Panti asuhan telah menerima bantuan sejak 2012.

Pesantren Raudhatul Quran terima bantuan YBM-BRI

Sebagai salah satu cara untuk mewujudkan visi Menjadi Pengelola Zakat, Infaq, dan Shodaqoh terkemuka di Indonesia yang Amanah, Profesional, dan sesua dengan syariat Islam, Yayasan Baitul Maal Bank Rakyat Indonesia (YBM-BRI), terus berinovasi untuk menciptakan program-program yang bisa bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

Menurut Abie Pratama, sejak tahun 2014 yang lalu, YBM BRI telah mempunyai program yang terintegrasi dalam bentuk pemberdayaan berbasis pondok pesantren.

“Empat program yang kita laksanakan bagi ponpes binaan YBM BRI yakni Beasiswa untuk santri, apresiasi untuk pengajar, pembangunan sarana dan prasarana, serta pemberdayaan potensi ekonomi pesantren dalam bentuk Badan Usaha Milik Pesantren.” ujar Abie.

Di Indonesia, masih kata Abie, terdapat 53 pondok pesantren yang menjadi binaan dari YBM BRI dan di tahun 2015 ini, jumlah pesantren binaan akan ditambah menjadi 100 lebih. “Dari jumlah itu, tiga pesantrennya berasal dari Sumsel. Pesantren Raudhatul Qur’an di Payaraman, Pesantren Ma’ariful Ulum di Talang Keramat, dan Pesantren Nurul Muhajirin d Tanjung Api-Api.” jelas Abie.

Abie menjelaskan, dari tiga pesantren dari Sumatera Selatan yang menjadi binaan YBM BRI, total dana yang sudah dikucurkan yakni sebesar Rp. 500.000.000.

“Pesantren Raudhatul Qur’an kita berikan 175.030.000 dengan rincian beasiswa untuk santri, apresiasi pengajar, dan Badan Usaha Milik Pesantren berupa pembenihan ikan patin. Sedangkan yang lainnya yakni Pesantren Ma’ariful Ulum sebesar 172.902.844 dan Pesantren Nurul Muhajirin Rp. 151.711.592.” kata Abie.

Sementara itu, Mudir Pondok Pesantren Raudhatul Qur’an di Payaraman Kabupaten Ogan Ilir, Muhammad Syafei Al Hafiz, mengatakan bahwa pihaknya sangat berterima kasih atas bantuan yang telah diberikan. Dirinya berharap, bantuan yang telah diberikan bisa memberikan banyak manfaat bagi santri.

“Kami do’akan agar YBM BRI bisa mewujudkan visi dan misinya sebagai Pengelola Zakat terkemuka di Indonesia ini. Selain itu, tentu saja bantuan ini akan kami manfaatkan dengan sebagai mungkin.” kata Muhammad Syafei. (OHH)

Sumber : DETIKSUMSEL.COM

Ponpes Darul Falah-Sidoarjo

Papan nama pengurus ranting sebuah partai menyambut kami di muka pondok darul falah 56. “Pak Yai enten?, demikian kata pembuka yang menggantikan salam. Sejurus kemudian sosok yang kami cari menyembul dari pintu musholla di sudut pondok.

Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan, kami menyeruput amdk non aqua sambil menunggu respon. Rupanya rangkaian kata dan penjelasan pak yai jauh dari perkiraan kami. Dengan sopan beliau menolak tawaran bantuan dari ybm.

Sekali lagi kami menyapu pandangan pada seluruh fisik pondok. Plafon yang mulai rontok, cat yang pudar, kamar mandi type YPA (yang penting ada, red), karpet mrudul dan dua lokal kelas kumuh multifungsi. Pak yai bersikukuh bahwa seluruh kebutuhan pondok sudah dipasrahkan pada Allah, setiap kali ada kebutuhan beliau menengadah dan mengadu dengan bahasa apa adanya. Allah begitu dekat.

Kami terus menggali, mencoba mencari jawab atas pertanyaan yg sedari tadi hanya berada di dalam batin. Beliau menjelaskan begitu sederhananya hidup, hanya fokus mengurus santri: tidak bekerja, tidak menjadi khatib, tidak mengisi pengajian lain dan tidak menerima sedekah ataupun pemberian dalam bentuk lain.

Syaikh abdul qadir jaelani yang menolak 2 kantong emas pemberian khalifah harun al rasyid menjadi landasan atas sikapnya menolak pemberian orang. Di mata Pak Yai hanya Allah lah satu-satunya penolong dan tempat bergantung. Langkah yang tidak masuk nalar akademis inilah yang justeru malah membawa pada jalan-jalan khas para abidin.

Kami meninggalkan pondok dengan sebuah pelajaran besar. Allah punya hajat begitupun kita. Jika kita mengikuti keinginanNya maka Allah akan memenuhi kebutuhan kita. Jika kita hanya menuruti keinginan kita, maka Dia Maha Kaya lagi Maha Sempurna.

Sambil mobil berjalan pelan menjauhi pondok, saya masih menyaksikan rumah Pak Yai yang lebih bagus dari rumah saya. Dan mesjid besarnya yang nampak akan sangat kokoh bila rampung kelak. Hidup menjadi sederhana bagi yang menyederhanakan. Dan seketika menjadi rumit bagi yang mengandalkan kepala semata. Dengan kesederhanaannya justeru kami melihat wajah Pak Yai yang tanpa beban hidup, mungkin karena seluruhnya sudah dipasrahkan padaNya. Wallahu alam.

Ponpes Al Munawaroh-Gresik

Aku menelisik lebih dalam, lurus pada sepatu yang akhir2 ini selalu tampak berdebu di bagian bawahnya. Jejak jerebu yang menggambarkan bahwa pondok pondok yang kami sambangi memang belum terjamah jalan permanen. Namun bisa juga dimaknai bahwa musim kemarau merata di pelosok negeri.

Modernisasi nampaknya bukan isyu penting bagi para kyai yang berkhidmat menghidupkan pondok, apatah lagi berita terbaru tentang gadget quadcore yg sudah tahan air.

“Sebulan setiap santri membayar uang makan seratus tiga puluh ribu”, demikian pak kyai meluncurkan statement sambil menarik nafas panjang. Aku mencoba berhitung lebih dalam dibanding perdebatan 4×6 atau 6×4 yang melambungkan siswa kelas dua dan profesor dari dua kampus terkemuka. Ya ini lebih esensi bagiku, bagaimana tidak.

Pertama, jika seluruh santri makan 3 kali dalam sehari maka biaya sekali makan sekitar 1.500. Angka itu jika dicoba belanjakan di jogja sekalipun mungkin hanya angkringan yang mampu menjawabnya.

Kedua, santri yang setiap hari mengkonsumsinya bukanlah santri kacangan. Didepan pondok terdapat spanduk sederhana yg mencantumkan nama santri yang menjuarai pelbagai lomba mtq internasional, yap internasional.

Santri disini alhamdulillah setiap kali mtq Diminta untuk mewakili banyak provinsi, demikian ujar pak yai. Byar pet, selama pembicaraan yg sepeminuman teh itu listrik berkali2 mati seolah memberi isyarat bahwa pondok itu memang layak dibantu.

Saya ini cuma numpang ngekos sama santri. Kalo rumah ya ndak punya, sempat mau beli ya tapi khawatir belum lunas sudah dipanggil Allah. Jadi yah sudah memutuskan untuk nyicil rumah di akhirat saja. Kata2 yang lurus tajam dan penuh makna meluncur begitu saja dari beliau. Saya tertusuk secara maknawi. Allah begitu indah menghias orang ini.

P3K Komunitas Muallaf Angkasa Pura, Papua

P3K Komunitas Muallaf Angkasa Pura, Papua

Jayapura, 10 Maret 2015 YBM-BRI menyerahkan bantuan Program Peningkatan Pendapatan Keluarga (P3K) dalam bentuk modal usaha budidaya ayam broiller. Bantuan diberikan kepada 25 Kepala Keluarga yang tergabung dalam Komunitas Muallaf Angkasa Pura yang dibina oleh seorang kepala suku asal Wamena.

Keberadaan komunitas ini dapat memberi warna tersendiri dalam kehidupan beragama di Jayapura. Komunitas Muslim Angkasa Pura berdiri di tengah-tengah lingkungan masyarakat non muslim. Bantuan diberikan karena peluang usaha budidaya ternak ayam broiler di Jayapura cukup menjanjikan.

Seperti halnya pemberdayaan di wilayah minoritas muslim, tantangan yang dihadapi komunitas Angkasa Pura adalah menemukan model usaha yang lebih menghasilkan dibandingkan ternak babi. Ini merupakan upaya pendayagunaan dana zakat YBM-BRI dalam rangka pemandirian komunitas muallaf sekaligus bentuk dukungan pembinaan aqidah di daerah muslim minoritas.