YBM-BRI Serahkan Alat Bantu Disabilitas

YBM BRI serahkan alat bantu disabilitas

Jakarta, 28 Januari 2015 YBM-BRI melalui program Berbagi Sehat Rakyat Indonesia memberikan bantuan berupa alat bantu kepada penyandang disabilitas. Dalam hal ini YBM bekerjasama dengan Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Penyerahan dilaksanakan di Masjid Abu Bakar Ashshiddiq, Jl. Otto Iskandardinata Blok Pencegahan No. 64, Jatinegara, Jakarta Timur. Pemberian bantuan berupa 50 buah tongkat tunanetra.
Masih dengan semangat yang sama yakni membantu para penyandang disabilitas dan memberikan semangat lebih bagi mereka. Rabu, 4 Februari 2015 tim YBM-BRI kembali menyambangi penyandang disabilitas. Kali ini tim YBM-BRI bekerjasama dengan Komunitas Disabilitas Rawalumbu (KUBE PENCA) merupakan komunitas yang memiliki kegiatan usaha bersama dengan berbagai macam jenis usaha yaitu pembuatan makanan ringan/camilan, jahit, bimbel, dll. YBM-BRI memberikan bantuan berupa 10 unit kursi roda, 5 unit alat bantu pendengaran, 2 set Tongkat “kruk” dan 5 buah Tongkat Tunanetra. Pemberian bantuan ini merupakan salah satu bukti kepedulian YBM-BRI terhadap penyandang disabilitas.

Peletakan Batu Pertama MCK YBM-BRI di Ponpes Nurul Islam

Peletakan Batu Pertama MCK YBM-BRI di Ponpes Nurul Islam

Serang, 23 Januari 2015 YBM-BRI-BRI meletakkan batu pertama pada pembangunan MCK di Pondok Pesantren Nurul Islam yang merupakan salah satu pondok pesantren binaan YBM-BRI yang berada di Wilayah Kerja Kanwil BRI Jakarta 3. Acara tersebut dihadiri oleh Dr. Fatah Sulaiman (Ketua Pengurus Ponpes), Drs. KH. Samsul Ma’arif (Ketua Presidium Forum Silaturahim Pondok Pesantren), Deden Kuswanda (Staf Senior Program Ekonomi).

Pondok Pesantren Nurul Islam berdiri di atas tanah wakaf dengan luas 2.900 m2 dengan kategori pesantren modern. Ponpes ini berada dibawah naungan Yayasan Nurul Iman yang dipimpin oleh Dr.Fatah Sulaiman, Pembantu Rektor Universitas Sultan Agung Tirtayasa (UNTIRTA). Berdiri sejak 1988 yang diawali dengan pendirian panti asuhan kemudian berkembang menjadi pondok pesantren dan sekolah formal SD,SMP dan SMA yang kini telah terakreditasi. Pondok pesantren ini memiliki 349 santri tidak menetap dan 69 santri menetap dengan mayoritas berlatar belakang keluarga santri yatim dan kurang mampu. Khusus kepada santri yang kurang mampu YBM-BRI memberikan biaya hidup gratis dimulai dari biaya SPP, transport sekolah, makan dan minum sehari-hari sampai dengan kebutuhan sandang santri. Selain MCK, YBM-BRI juga memberikan bantuan berupa beasiswa kepada 30 orang santri, apresiasi pendidik kepada 10 orang pendidik dan memberikan modal usaha berupa usaha air minum isi ulang dengan total bantuan secara keseluruhan senilai Rp 195.252.844,-.

Alat Kebersihan untuk Masjid

Alat kebersihan untuk masjid

Kamis, 22 Januari 2015 YBM-BRI berikan bantuan alat kebersihan berupa vacuum cleaner kepada 10 masjid binaan yang kerap kali mengalami banjir di daerah Pademangan, Tanjung Priuk, Pesanggrahan, Babelan, Bekasi dan Muara Gembong. ”Bantuan ini diberikan sebagai salah satu upaya untuk mempersiapkan masjid dalam menghadapi banjir“ tutur PIC Program Sosial Dakwah, Mimma Juwit Rifai. 10 masjid binaan YBM-BRI tersebut berada di daerah rawan banjir yang hampir setiap tahun terkena dampak banjir. Bantuan dengan total nilai Rp 18.000.000 setidaknya dapat membantu 400an penerima manfaat.

YBM-BRI Adakan Baksos Kesehatan & Bagikan 1000 Paket MakananTambahan di Kabupaten Boyolali

YBM-BRI Adakan Baksos Kesehatan & Bagikan 1000 Paket MakananTambahan di Kabupaten Boyolali

Yayasan Baitul Maal BRI bersama BRI Kanca Boyolali mengadakan baksos kesehatan dan pembagian 1.000 Paket Makanan Tambahan (PMT) di Kec. Kemusu, Kec. Nogosari, dan Kec. Banyudono. Kecamatan-kecamatan tersebut merupakan tiga dari 12 kecamatan dengan kasus gizi buruk dan gizi kurang tertinggi di Kab. Boyolali (Dinas Kesehatan Kab. Boyolali)

Kegiatan yang dilaksanakan di SDN 01 Keyongan, Kec. Nogosari, Kab. Boyolali, Jawa Tengah ini dihadiri oleh Agus Dwiyanto (Manajer BRI Kanca Boyolali), Robiana Weda Asmara (Pelaksana Harian YBM BRI Kantor Pusat), Suyadi (Kepala SDN 01 Keyungan), dan Ratoyo (Kepala Seksi Gizi Dinkes Boyolali). Pada kesempatan itu Ratoyo mengungkapkan bahwa pada tahun 2013, terdapat 6,7 % anak dengan gizi kurang di Kab. Boyolali, dan kabupaten tidak memiliki anggaran yang cukup untuk menangani kasus yang ada karena defisit anggaran sejak tahun 2010.

Sebagaimana tujuan diadaknnya kegiatan yaitu, meningkatkan status gizi anak yang terindikasi gizi buruk, dan mencegah terjadinya kasus gizi buruk di wilayah Kab. Boyolali, YBM BRI melanjutkan kegiatan tersebut dengan melakukan pendampingan terhadap keluarga dari anak yang terindikasi menderita gizi buruk dan gizi kurang selama tiga bulan, yang rencananya dipusatkan di tiga desa di Kec. Nogosari dan tiga desa di Kec. Banyudono.

Status gizi pada dasarnya adalah keadaan seimbang antara asupan dan kebutuhan zat gizi yang diperlukan tubuh untuk tumbuh kembang terutama untuk anak balita, aktifitas, pemeliharaan kesehatan, penyembuhan bagi mereka yang menderita sakit dan proses biologis lainnya di dalam tubuh. (Depkes.RI 2008). Ukuran yang digunakan dalam menentukan status gizi adalah berat badan yang didasarkan pada tinggi badan atau umur.

Perbedaan antara gizi buruk dengan gizi kurang terletak pada proses penyembuhan. “mereka mengalami gizi buruk bukan murni karena kekurangan pangan, tetapi karena adanya penyakit penyerta” Ungkap Ratoyo.

Ambulance untuk Sesama

Ambulance untuk Sesama

Yogyakarta, 20 Januari 2015 YBM-BRI melalui Program Berbagi Sehat Rakyat Indonesia menyerahkan satu unit ambulance kepada Yayasan Semesta Utama senilai Rp 200.000.000,- . Yayasan Semesta Utama adalah Yayasan kemanusiaan yang telah bekerjasama dengan YBM-BRI sejak tahun 2011, guna membantu masyarakat sekitar yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang lebih baik, maka YBM-BRI melalui Yayasan Semesta Utama memberikan fasilitas ambulance untuk digunakan secara gratis. Selain penyerahan ambulance ini juga diserahkan bantuan MCK yang terletak di Mushalla Aswaja yang beralamat di Jl. Marsda Adi Sucipto, Bantul senilai Rp 25.000.0000,-. Adapun dalam acara ini turut hadir Ibu Hj. Sri Suryawidati (Bupati Bantul), I Wayan Sudana M.Kes (Direktur RSUD Bantul), KH. Ahmad Kholiq Syifa (Ketua MUI Kabupaten Bantul), Mahmudi (Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bantul), Agus Sulistyana (Camat Pandak) dan Bapak Lalu Indrajaya (Pinca BRI Bantul).

Membebaskan Orang Yang Berhutang

Membebaskan Orang yang berhutang

Tanya :
Assalamu’alaikum wr, wb,
Salah  satu  kategori  ashnaf  yaitu  gharim atau  dalam  artian  untuk  (membebaskan) orang  yang  berutang.  Bagaimanakah kriteria  gharim  tersebut?  Apakah  semua yang  berutang  termasuk  dalam  kategori tersebut? Terimakasih.

Jawab :
Wa’alaikumussalam wr, wb
Berdasarkan  Alquran  surat  At-Taubah (9):60,  satu  dari  delapan  kelompok sosial  (tsamaniyatu  ashnaf)  yang  berhak menerima  dana  zakat  adalah  al-gharimin. Al-gharimin  adalah  jamak  (plural)  dari kata  tunggal  (mufrad) al-gharim.  Secara harfiah,  al-gharimin  oleh  masyarakat awam  kerap   diartikan  dengan  orang- orang  yang  punya  utang.  Sesungguhnya, kata  al-gharimin  bisa  juga  disebut  al- ghurama’,  maksudnya  ialah  orang-orang yang  memiliki  tanggungan  atau  tepatnya -terlilit-  beban  keuangan  yang  harus  dia/ mereka bayar. Terutama untuk membayar utang  yang  wajib  dibayar.  Selain  utang, termasuk  ke  dalam  pengertian  al-gharim dalam konteksnya  yang  luas  ialah  beban- beban  keuangan  lainnya  yang  harus dibayar oleh al-gharimin atau al-ghurama’ itu.  Misalnya untuk  membayar  denda, membayar  ganti-rugi,  pembayaran  diat, dan lain-lain yang semakna dan semaksud dengan itu.

Mencermati pendapat para pakar tafsir  (mufassir),  hadits  (muhadditsin), dan  fikih  (fuqaha),  kata  al-gharimin mengandung  makna yang  cukup  luas  dan luwes.  Luas,  maksudnya  tidak  semata- mata  terkait  dengan  utang-piutang yang  mutlak  harus  dibayar, sedangkan luwes  maksudnya  adalah  sesuai    dengan keadaan (latar belakang) gharim serta niat tujuan  dari  utang-piutang  atau penyebab timbul/kejadian  beban  keuangannya  itu sendiri.  Al-qasimi,  Muhammad  Mahmud Hijazi, dan lain-lain misalnya, menafsirkan kata  “al-gharimin”   dengan  orang-orang yang menanggung utang untuk memenuhi kebutuhan  diri  dan  keluarganya  sendiri di  luar hal-hal  yang  mengandung kemaksiatan,  dan  mereka  tidak  mampu untuk  membayar  utangnya  itu.  Bisa  juga utang  yang  dilakukan seseorang  atau kolektif  (panitia)  pembangunan  atau kegiatan  yang   kemaslahatannya  untuk umat  dan/atau  kepentingan  umum meskipun  si/para   penanggung  utang  itu sendiri  sesungguhnya   memiliki  harta kekayaan  yang  cukup  untuk  membayar utangnya.  Demikian  juga  misalnya  untuk pembayaran  ganti  rugi,  denda,  iuran  atau lain-lain yang senafas dengan itu.

Syaratnya,  menurut  kebanyakan ahli  agama,  utang,  ganti  rugi,  iuran  dan/ atau  yang  lain-lainnya  yang  boleh  dibayar dengan  dana  zakat  itu  bukan  dalam konteks  perbuatan  maksiat;  kecuali  kalau yang  bersangkutan  benar-benar  tobat atau  dalam  konteks pertobatan  yang bersangkutan   dari  hal-hal  kemaksiatan. Demikian menurut al-Sayyid Sabiq.

Berdasarkan  uraian  singkat di  atas,  dapatlah  disimpulkan  bahwa tidak  semua  dan  setiap  utang  bisa dikategorikan  ke  dalam kelompok  al- gharimin,  kecuali  yang  memenuhi  kriteria di  atas  yakni  terutama  utangnya  untuk kebutuhan  mendesak  dan  dalam hal-hal yang  dibenarkan  syariat.  Maknanya,  tidak semua  bentuk  utang-piutang  orangnya bisa  dikategorikan  ke  dalam  al-gharimin, dan  karenanya  maka  tidak  semua  dan setiap  utang  boleh  dibayar  dengan  harta zakat.  Intinya,  perlu  sangat  cermat  dan selektif dalam menentukan gharim dimana harus  dipelajari  kasus  perkasus.  Setelah diyakini yang bersangkutan menjadi layak sebagai  gharim  yang  memenuhi  lriteria mustahik,  berikanlah  karena  itu  memang haknya.  Apalagi  yang  digunakan  untuk kemaslahatan umat dan/atau kepentingan umum.  Itupun  jumlahnya  jangan  sampai mengganggu  hak-hak  mustahikkin  yang lainnya.
Wallahu’alam bissawab

 

Coffeeboth di Masjid Transit

4

YBM-BRI berikan bantuan Coffeebooth bagi 119 masjid transit di Jabodetabek dengan total bantuan yang diberikan Rp 226.100.000 dengan harga satu paket senilai Rp 1.900.000 yang terdiri dari:

Booth kopi (Meja Kopi) dan paket perlengkapan dan isi warung kopi yang terdiri dari dispenser, galon, cangkir, gelas plastik, nampan dan enam renceng kopi. Dari 57 masjid yang sudah terverifikasi, baru 21 masjid yang telah menerima bantuan secara langsung untuk periode penyaluran 13-16 Januari 2015.

“Program ini bermula pada sebuah mimpi Bagaimana memberi nuansa berbeda bagi jamaah yang ingin bersodaqoh di masjid. Sasaran program adalah masjid yang berada dipinggir jalan raya (masjid tempat jamaah transit). Dengan mencicipi kopi pada booth BUMM YBM-BRI maka para jamaah ikut bershodaqoh bagi kesejahteraan masjid” tutur Muhammad Fikri (Staf Operasional Divisi Ekonomi).

Proses kegiatan verifikasi penerima manfaat dan penyaluran masih terus dilakukan oleh tim ekonomi dan volunteer. Secara umum para pengurus masjid transit yang menerima bantuan mengucapkan banyak terimakasih dan berharap bantuan kedepan akan memberikan dampak positif

YBM-BRI Serahkan 119 Gerobak Usaha Kecil

7
Deden Kuswanda (Staff Senior Program Ekonomi) menyerahkan bantuan berupa gerobak kepada pemilik usaha kecil pada Senin, 12 Januari 2015. Gerobak tersebut diberikan kepada 119 pedagang di wilayah DKI Jakarta yang sebelumnya telah lulus verifikasi sebagai penerima manfaat YBM-BRI.
“Bantuan ini merupakan kelanjutan bantuan yang diberikan secara simbolis dalam acara puncak HUT BRI 119 lalu. Gerobak diberikan kepada 20 pedagang martabak, 35 pedagang roti bakar dan 64 pedagang mie ayam bakso” ujar Deden di sela pembagian gerobak.
Program ini merupakan salah satu program yang diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT BRI 119. Dalam perjalanannya, penerima bantuan haruslah tergabung

YBM-BRI Berdayakan Kelompok Usaha Garam BRIlian

6

Cirebon, 8-10 Januari 2015 YBM-BRI menggelar Latihan Wajib Anggota (LWA) bagi 60 penerima manfaat Program Peningkatan Pendapatan Keluarga (P3K) kelompok usaha produksi garam atau lebih dikenal dengan usaha garam BRIlian. Jumlah bantuan yang diberikan adalah senilai Rp 113.600.000.

“Pada program ini YBM menggandeng tim ahli peraih Mina Bakti Bahari 2014 yaitu Bapak M. Sanusi yang juga merupakan penemu TUF (Teknologi Ulir Filter) dalam proses pembuatan garam” tutur Iftitah Kamalia (Staf Kebijakan Divisi Ekonomi).

Program Peningkatan Pendapatan Keluarga (P3K) adalah salah satu program pemberdayaan ekonomi YBM-BRI yang memiliki tujuan meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat miskin melalui keluarga. Sepanjang tahun 2014 YBM-BRI telah memiliki 10 kelompok P3K.

362 Paket Makanan Tambahan untuk Anak Sekolah

362 Paket
Selasa, 6 Januari 2015 YBM-BRI melalui Program Berbagi Sehat Rakyat Indonesia memberikan paket makanan tambahan kepada 362 orang anak sekolah tingkat TK dan SD yang tersebar di 6 titik wilayah padat penduduk dan miskin di Jakarta dan Bekasi yaitu PAUD Al-Mukmin Bekasi, SD Harapan Jaya Bekasi, Yayasan Pendidikan Nurul Huda Bekasi, Yayasan Fathul Qorib Jakarta Utara, PAUD Aisyiah Tebet, TPA/MD Nurul Ikhwan Binaaul Aulad Jakarta Timur dan TPA Al Istiqomah Jakarta Pusat.

Paket makanan tambahan ini diberikan sebagai salah satu wujud kepedulian YBM terhadap gizi anak Indonesia. Asupan gizi yang cukup untuk anak usia sekolah dapat membantu tumbuh kembang dan membuat anak lebih mudah menyerap pelajaran. Paket yang diberikan oleh YBM berupa susu, biskuit, buah, sari kacang hijau dan roti.