YBM-BRI Gelar Pelatihan Tahsin Al-Qur’an untuk Guru TPA & Marbot Malang

YBM-BRI Gelar Pelatihan Tahsin Al-Qur’an untuk Guru TPA & Marbot Malang

Sebanyak 54 peserta yang terbagi dari kelompok  guru TPA  dan marbot di Kantor Wilayah Bank Rakyat Indonesia Malang mengikuti pelatihan Tahsin dan Tartil Al-Qur’an, dengan metode Maisura.

Kegiatan berbagi syiar  dari YBM-BRI  yang berlangsung selama dua hari yakni pada tanggal 26-27 April 2014 ini dilaksanakan di Aula kampus STIE ABM Malang.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi dan monitoring program bantuan sarana ibadah, pemberdayaan marbot, takmir masjid dan guru TPA di YBM-BRI Kanwil Selindo. Selain itu, digelarnya pelatihan ini juga karena ingin memberikan nilai tambah dalam program penyaluran bidang sosial dakwah.  Serta menambah pemahaman membaca dan mengamalkan ilmu Al-Qur’an khususnya bagi peserta dan umat Islam pada umumnya. Pelatihan Tahsin dan tartil Al-Qur’an yang sangat bermanfaat ini pun merupakan salah satu kegiatan lanjutan dari bagian sosial dan dakwah YBM-BRI dalam program ‘Berbagi Syiar Indonesia’  yang digagas oleh Prof Bunasor Sanim, selaku Komisaris Utama Bank BRI.
Selama dua hari pelatihan, peserta mendapatkan beberapa fasilitas untuk mendukung kegiatan tersebut, seperti ruang pelatihan yang nyaman, konsumsi, dan peralatan lainnya yang disediakan panitian YBM-BRI untuk mengoptimalkan dan memaksimalkan acara pelatihan Tahsin dan Tartil Al-Qur’an.  Selain itu, para peserta juga mendapatkan uang saku berupa tabungan BRI dan sertifikat yang menyatakan mereka telah mengikuti pelatihan. Dari hasil kuesioner yang diberikan kepada peserta setelah pelatihan, hampir seluruh peserta merasa puas dengan kegiatan tersebut. Selain karena mereka bisa memahami dan dapat membaca ayat Al-Qur’an dengan makhraj yang benar, mereka pun berkesempatan untuk menjadi peserta pelatihan lanjutan lainnya.
Penggagas Metode Maisura yakni Dr. H. Ahmad Fathoni, Lc., M.A, menyatakan metode Maisura dirancang berbasis teori, praktik, dan pelatihan. Metode tersebut, diperuntukkan bagi pembaca Al-Qur’an yang masih berada di tingkat sekadar bisa membaca. Dalam hal ini, sambung Fathoni, metode Maisura berikhtiar agar kualitas tartil yang optimal dalam membaca Alquran dapat dicapai dengan cepat. Di akhir pelatihan, fathoni mengatakan “Dalam mencari ilmu jangan dikalkulasikan sekarang. Artinya, jangan menghitung atau mempertimbangkan besoknya mau jadi apa. Jangan mengkalkulasikan untung dan ruginya. Carilah ilmu sebanyak-banyaknya!”.

Sarasehan Penerima Manfaat Program YBM-BRI

Sarasehan penerima manfaat program YBM-BRI

26 April 2014 lalu YBM adakan sarasehan bersama penerima beasiswa dan komunitas usaha mikro YBM-BRI di Masjid Al-Hidayah, Kramat Jati. Selain merupakan ajang silaturahim bersama penerima manfaat, pada acara yang dihadiri oleh Manajer Program Ekonomi YBM, Deny Pribadi ini juga disampaikan laporan pertanggungjawaban dari pendamping program. Pada acara tersebut diserahkan secara simbolis bantuan beasiswa rutin sebesar Rp 149.400.000 dan bantuan P3K (Program Peningkatan Pendapatan Keluarga) sebesar Rp 40.000.000 untuk komunitas Masjid AL-Hidayah.  Selain silaturahim, pelaporan dan penyerahan bantuan secara simbolis, ditampilkan pula salah seorang ibu penerima bantuan P3K YBM yaitu Lasmiatun. Ia memiliki usaha kentang kering balado yang sudah cukup berkembang, hal ini dilakukan guna memberi inspirasi bagi anggota P3K lainnya agar terus berusaha mengembangkan usaha yang ditekuni.

Zakat Untuk Orang Tua

Zakat Untuk Orangtua

TANYA :
Assalamu’alaikum wr, wb,
Bolehkah  kategori  asnaf  fakir  dan  miskin dianalogikan  dari  pendapatan  perkapita keluarga yang kurang dari pendapatan perkapita
keluarga wajib zakat ? Bagaimana seharusnya ?
Terimakasih.

 

JAWAB :
Sebelum  menjawab  pertanyaan Saudara,   perlu  dijelaskan  lebih  dulu  tentang prinsip-prinsip  zakat  itu  sendiri.  Sebagaimana diketahui,  kewajiban  zakat  (ftrah  maupun mal  dan  bahkan  profesi).  Pada  dasarnya  dan dalam  kenyataannya  adalah  bersifat  individu (perorangan)  sehingga  kewajibannya  bersifat fardu  ain.  Menurut  mayoritas  ulama  fkih (jumhur  al-fuqaha’),  kewajiban  zakat  pada dasarnya dibebankan kepada setap muslim yang baligh dan akil (berakal sehat) dan bahkan juga  terhadap   anak  kecil  dan  orang  gila  (al-shaghir wa-al-majnun);  meskipun  menurut  sebagian kecil (sedikit) ulama ada yang tdak mewajibkan zakat  bagi  harta  anak  kecil  dan  orang  gila karena  masing-masing  belum  baligh  dan  tdak berakal. Sedangkan terhadap harta milik umum, menurut kebanyakan ulama tdak dikenai wajib zakat,  meskipun  menurut  sedikit  ulama  –  di antaranya al-Imam Muhammad, pengikut Imam Abu Hanifah — ada yang menghukumkan wajib zakat bagi harta umum (al-mal al-‘am).
Dalam pada itu, ada pula persyaratan zakat  yang  salah  satunya  –  sebagaimana dikemukakan sebagian pakar di antaranya  Rafq Yunus  al-Mashri.  Yakni  merupakan  kelebihan dari  pemenuhan  kebutuhan-kebutuhan  dasar/pokok  (fa’idh  ‘an  al-hawa’ij  al-ashliyyah)  yang menyebabkan kewajiban zakat itu sendiri hanya dikenakan  atas  kelebihan  /  sisa  harta  setelah dikurangi pemenuhan kebutuhan primer untuk dirinya  sendiri  (contoh  1)  dan  /  atau  untuk keluarga  yang  nakhah  kehidupannya  menjadi tanggungannya (contoh 2). Berdasarkan  kasus  yang  Anda ragakan,  untuk  kasus-kasus  tertentu  (kasuists) dengan  jumlah  yang  pas-pasan  sebagaimana Anda  contohkan,  pengasuh  cenderung  untuk mengatakan  boleh  menetapkan  kategori  asnaf fakir  dan  miskin  dianalogikan  dari pendapatan perkapita keluarga yang kurang dari pendapatan perkapita  keluarga  wajib  zakat.   Dengan demikian,  maka  contoh  1  yang  seorang  diri sehingga  dikategorikan  tdak  miskin,  dikenai wajib  zakat atas penghasilannya di satu sisi dan pengeluarannya  di  sisi  yang  lain;  sementara untuk contoh 2 yang memiliki 4 orang tangungan keluarga  sehingga  terkategorikan  miskin,  tidak dikenai  wajib  zakat  meskipun  penghasilannya dalam satu tahun sudah setara dengan 85 gram emas dalam pengertan sama dengan penghasilan orang dalam kasus 1. Sebab, penghasilannya yang setara dengan 85 gram emas dalam satu tahun (haul), itu selain tergolong ke dalam penghasilan bruto  dalam  pengertan  belum  diambil  biaya utama  (ongkos/transportasi)  dan  lain-lain,  yang bersangkutan  juga  memiliki kewajiban  keluarga yang demikian banyak/berat. Atas dasar ini pula maka yang bersangkutan itu bukan hanya boleh tidak  dikenai  beban (kewajiban)  membayar zakat, melainkan pada saat yang bersamaan juga– terutama anggota keluarganya — bisa (berhak) menjadi mustahik zakat atas dasar kemiskinannya sebagaimana pada contoh kasus 2.
Hanya  saja,  bila  dihubungkan  dengan zakat  profesi  (penghasilan),  orang  yang  berada dalam kasus nomor 2  ini dapat dikatakan  tdak akan pernah menjadi muzakki (membayar zakat) sepanjang  hayatnya  meskipun  penghasilannya lebih  besar  lagi  dari  itu.  Misalnya  (Katakanlah) dua  hingga  tga  kali  lipat  sekalipun  manakala cara  pembagiannya  sepert  itu.  Pasalnya  ? Berapapun  tambahan penghasilan  yang  dia terima, terkesan akan selalu habis bila dibagikan dengan  logika  pendapatan  perkapita,  kecuali jika penghasilannya sedemikian rupa banyaknya (berlipat-lipat  lebih  besar)  dari  sekedar  kasus yang Anda contohkan.
Atas  dasar  itu  pula  maka  tdak  sedikit ulama yang berpendirian bahwa zakat penghasilan (profesi)  pada  dasarnya  harus  dikeluarkan  dari pendapatan neto (setelah diambil ongkos/biaya riil)  seketka  yang  jumlahnya  tetap  mencapai satu  nishab  tanpa  harus  dihitung-hitung  untuk pembiayaan keperluan hidup terlebih dahulu.
Dengan  demikian,  selain  insya  Allah akan  memperoleh  keberkahan  tersendiri atas  zakat  yang  dikeluarkannya,  juga  insya
Allah  akan  bertambah  rizki   dalam  kelanjutan hidupnya.  Kecuali  itu,   yang  bersangkutan  juga akan  merasakan  indahnya  menjadi  muzakki. Syukur-syukur  minimal  menjadi   munfk  dan mutashaddik,  sebab  kehidupan  itu  harus berproses ke arah yang lebih maju lagi termasuk ekonomi  dan  keuangannya.  Pendeknya,  tdak selalu dan selamanya menganalogikan kewajiban zakat  dengan  pendapatan  perkapita  sebuah keluarga,  apalagi  tatkala  dikaitkan  dengan  zakat perofesi  (penghasilan)  yang  umumnya  selalu mengalami  kenaikan.  Kecuali  mereka  yang pendapatannya  bena-benar  stagnan,  apalagi dengan pendapatan yang kurang dinishab dengan tanggungan keluarga yang berat pula. Pendeknya, zakat tdak akan pernah memberikan beban berat bagi siapapun yang siap mengeluarkan zakatnya. Amin.

YBM-BRI Gelar Pelatihan Quran Bagi Muslim Tionghoa

YBM-BRI Gelar Pelatihan Quran Bagi Muslim Tionghoa

Mungkin bagi kita melihat warga Tionghoa berkumpul mempelajari Al-Quran merupakan pemandangan yang sedikit tak biasa. Karena umumnya kita menganggap warga beretinis Tionghoa mayoritas beragama hindu, budha dan konghucu. Namun inilah yang kegiatan yang diselenggarakan oleh YBM-BRI.
Pelatihan membaca Al-Quran ini merupakan salah satu Program Berbagi Syiar Rakyat Indonesia YBM-BRI. acara yang berlangsung sabtu sampai ahad (5-6 April) merupakan pelatihan dengan metode cepat membaca Al-Quran yang diberi nama belajar Al-Quran Metode Islami.  Kegiatan ini bekerjasama dengan komumitas muslim Tionghoa Karim Oei yang juga sekaligus sebagai peserta dan tuan rumah acara. Dengan Achmad Farid Hasan sebagai pemateri,pimpinan dan pendiri Yayasan Islamic Course Asy-Syarif Jakarta.
Kegiatan yang berlangsung di Masjid Karim OEI Lau Tse, Jl. Lautze Raya No.87-89 Jakarta Pusat ini diikuti oleh 46 warga muslim tionghoa. Mereka mengikuti kegiatan dengan serius dan antusias, hal ini terbukti dari banyaknya peserta yang sering bertanya mengenai materi pelatihan dan mengikuti seluruh kegiatan dari awal hingga akhir acara.
Adapun Metode Pelatihan yang diberikan adalah ceramah disertai dengan sesi tanya jawab, pembahasan baca qur’an huruf per huruf, tajwid dan praktek membaca al-qur’an dan diselingi permainan/games. sedangkan materi yang disampaikan meliputi pengenalan dasar huruf al-qur’an, tanda baca, angka dalam bahasa arab, serta tajwid ringkas dan praktek mambaca al-qur’an.
Sedangkan tujuan YBM-BRI mengadakan kegiatan ini diantaranya sebagai sarana belajar bagi peserta yang belum bisa membaca Al-Qur’an sama sekali (NOL), pengenalan dan pemahaman dasar huruf Al-qur’an, tanda baca dan tajwid, menambah pengetahuan tentang membaca Al-Quran dengan metode Islami serta membentuk karakter Rabbani dan memotivasi peserta agar bersemangat menuntut ilmu dan mensyiarkan islam.
Pemateri pelatihan baca Al-Quran Metode Islami Achmad Farid Hasan ini juga menabahkan bahwa tujuan dilaksanakannya kegiatan pelatihan adalah menumbuhkan keinginan yang kuat kepada umat Islam agar lebih banyak membaca, mempelajari, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Al Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.  “Bangsa yang kuat dan memiliki harga diri tinggi adalah bangsa yang mengamalkan nilai-nilai Al Qur’an, sebagaimana hadist Nabi Muhammad SAW, yang berbunyi,  Sesungguhnya Allah mengangkat derajat beberapa kaum (suku, bangsa) dengan sebab kalam ini (Al Qur’an), dan merendahkan derajat kaum yang lain dengan sebabnya (Al Qur’an),” Jelasnya.
Selain mendapatkan materi peserta juga mendapatkan fasilitas pelatihan seperti konsumsi, Mushaf Al-Quran, Buku Panduan Belajar Al-Quran Metode Islami, Sertifikat, seragam dan uang saku untuk peserta.  Pemimpin komunitas muslim tionghoa karim oei  pun mengucapkan rasa bahagia dan terima kasihnya kepada YBM-BRI yang telah mengadakan pelatihan membaca A-Quran kepada muslim Tionghoa karim Oei. “Alhamdulillah YBM-BRI adalah lembaga zakat pertama yang memberikan pelatihan membaca Quran dengan cara yang sangatmembantu muslim di sini. Karena biasa warga belajar Quran cepat merasa bosan karena caranya monoton sehingga mereka lama untuk bisa memahami cara membaca Al-Quran yang benar,” tutur Ali karim pemimpim komunitas karim oe.