Zakat Untuk Orang Tua

Zakat Untuk Orangtua 2

TANYA :
Assalamu’alaikum wr, wb,
Prof, saya orangtua tunggal dari 2 orang anak berusia 6 dan 4 tahun. Saya dan suami sudah bercerai 6 bulan lalu. Alhamdulillah, hak pengasuhan anak jatuh ke tangan saya. Namun, apakah kewajiban membayar zakat fitrah anak pun jadi beralih kepada saya atau
justru tetap kewajiban mantan suami? Jika memang demikian, berapa batas waktu saya untuk membayarkan zakat untuk anak? Bagaimana perhitungannya Prof? Terimakasih.
JAWAB :
Waalaikumsalam wr, wb,
Sesuai dengan pesan pada surat Al-Baqarah ayat 233, secara prinsip tanggung jawab untuk pembiayaan kehidupan anak berada pada ayahnya, terutama jika ayahnya memiliki kemampuan  untuk  itu.  Namun,  seorang  Ibu  pun  memiliki  kewajiban  untuk  membiayai kehidupan anak,  jika ibu memiliki kemampuan dan kemauan untuk itu. Terutama di saat ayahnya tidak memiliki kesanggupan untuk membiayai kehidupan rumah-tangga.
Terkait  dengan  peristiwa  yang  Ibu  alami,  maka  kewajiban  pemenuhan  biaya  hidup  anak masih  berada  di  tangan  mantan  suami.  Adapun  mengenai  zakatnya  fitrah,  maka  zakat kedua anak Ibu (baik yang berusia 6 tahun maupun yang 4 tahun) itu secara hukum menjadi kewajiban ayahnya. Namun,  jika Ibu berkenan membayarkan zakat fitrah kedua anak Ibu, maka hukumnya tetap boleh dan sah.
Selain itu, uang belanja yang diberikan mantan suami Ibu untuk kedua anak tersebut, tidak ada kewajiban untuk mengeluarkan zakatnya. Kecuali  jika uang yang mereka (kedua anak  Ibu)  terima  itu  dalam  jumlah  besar  dan  bisa  dikelola  oleh  Ibu.  Misanya,  ditabung, dideposito,  atau  digunakan  untuk  usaha-usaha  produktif  lainnya  sehingga  membuahkan hasil,  maka  Ibu  berkewajiban mengeluarkan  zakat  uang  kedua  anak  Ibu.  Terutama  dari hasil tabungan atau depositonya. Besar jumlah zakat yang harus dibayarkan adalah  2,5 %, dari  besaran uang yang disimpan berikut  pengahsilannya. Misalnya, jika uangnya sebesar Rp. 1 Miliar, lalu Ibu depositokan untuk jangka waktu 1 tahun dengan bagi  hasil Rp 12 juta persatu bulan sehingga dalam setahun (haul) mendapatkan bagi hasil sebesar Rp 120 juta. Uang zakatnya berarti sebesar Rp. 25 juta  dari yang Rp. 1 miliar (uang pemberian dari sang ayah) ditambah  2,5 % wajib zakat dari bagi hasil yang berjumlah Rp. 120 juta = Rp 300.000. Jadi, keseluruhan zakat yang harus dikeluarkan oleh Ibu berjumlah Rp. 25 juta + 300.000 = Rp 25.300.000. Uang zakat sebesar 25.300.000,  ini bukan menjadi kewajiban Ibu dan juga bukan menjadi kewajiban mantan suami Ibu; sebab kewajiban zakatnya diambi dari uang kedua anak Ibu itu sendiri. Demikian jawabannya, semoga bisa dipahami, terima kasih.

10.000 Benih Lele Untuk Pesantren Al-Umm Aswaj

10.000 Benih Lele Untuk Pesantren Al-Umm Aswaj

Saat ini, budidaya ikan lele sangat diminati para peternak karena permintaan pasar yang terus berkembang. Pemerintah pun gencar melalukan berbagai riset untuk mendukung para peternak lele demi meningkatkan perekonomian masyarakat. Sejalan dengan pemerintah, Yayasan Baitul Maal Bank Rakyat Indonesia (YBM-BRI) pun turut meresmikan program Badan Usaha Milik Madradah/Masjid (BUMM) bidang ekonomi berupa budidaya ikan lele Sangkuriang di pesantren Al UMM Aswaja, Ciawi, Bogor, Jawa Barat.

YBM-BRI menyerahkan bantuan kepada program usaha budidaya ikan lele Sangkuriang, pesantren Al Umm Aswaja yang dialokasikan dalam bentuk pakan dan pemeliharaan. Adapun perincian penggunaan tersebut untuk pembuatan 4 unit kolam lengkap dengan pekerja borongan,  10.000 benih lele, pakan serta perlengkapan pembuatan kolam. Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk mempererat tali silahturahmi antara YBM-BRI dengan mitra pelaksana program, dan penerima bantuan. Juga meningkatkan kemampuan pelaksana YBM-BRI dalam melakukan pendampingan terhadap program-program yang dijalankan. Serta memperkuat kelanjutan program berbasis pesantren dan mengembangkan kapasitas pelaksana program sebagai petugas yang berperan penting dalam pemberdayaan masyarakat.

Adapun konsep yang diterapkan pesantren Al Umm Aswaja dalam peternakan ikan lelenya yakni menggunakan budidaya dengan cara tradisional yaitu penggunaan terpal yang dibuat di atas tanah untuk proses pemijahan. Pihak pesantren saat ini sedang mengembangkan usaha lele yang difokuskan pada bidang pembenihan dan pembesaran. Setelah mendapatkan bantuan dari YBM-BRI pada bulan Oktober dan penebaran benih pada bulan Desember tahun lalu, maka pada bulan Maret 2014 usaha budidaya ikan lele sangkurian

STBK untuk Ponpes Kalangsari

STBK untuk Ponpes Kalangsari

Pangandaran, 3 Maret 2014, YBM meresmikan program Sanitasi Total Berbasis Komunitas (STBK) di Pondok Pesantren Kalangsari, Pangandaran. YBM memberikan bantuan berupa sarana sanitasi senilai Rp 90.000.000. Selain STBK, YBM juga memberikan beasiswa kepada 60 siswa MI, MTs dan MA Kalangsari senilai Rp 72.000.000.

Sehari sebelum peresmian, tim YBM sudah hadir dan memberikan penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk santri Ponpes Kalangsari. Selain penyuluhan, tim YBM juga mengajak santri untuk mempraktekkan cara cuci tangan yang benar. “Cuci tangan merupakan hal yang paling dasar tetapi sering dilupakan atau tidak dilupakan tetapi caranya masih belum benar, maka kami berinisiatif untuk memberikan praktek mengenai cuci tangan pakai sabun yang benar” jelas Marfuah selaku Staff Program  Kesehatan YBM.

Selain praktek cuci tangan, seluruh santri juga diajak untuk membersihkan ponpes. Santri dibagi atas beberapa kelompok yang bertugas untuk membersihkan kelas, asrama dan kamar mandi. Dari kegiatan tersebut diangkat lah 15 orang santri sebagai laskar STBK YBM yang terdiri dari laskar buang air besar sembarangan, laskar cuci tangan pakai sabun, laskar pengolahan makanan dan minuman, laskar pengolahan sampah dna laskar pengolahan limbah. Salah satu laskar STBK adalah Cepi, ia bertekad untuk mengajak teman-temannya menjaga kebersihan. “Kedepannya, saya akan mengajak teman-teman untuk hidup lebih bersih agar selalu sehat,  insya Allah jika semua santri bisa menjaga kebersihan, maka pondok akan selalu bersih, belajar pun menjadi lebih nyaman lagi.”

Peresmian STBK ke-5 yang ditandai dengan pengguntingan pita ini dihadiri oleh Bpk. Endang (Camat Cijulang), Bpk Yoris Rusamsi (Sekretaris YBM), Bapak Endang Munawar (Direktur PT. PKSS), Dwi Iqbal Noviawan (General Manager YBM), Hayat Arifin (Ketua Yayasan Kalangsari)  dan tokoh masyarakat setempat.
Dalam sambutannya Hayat Arifin  menyampaikan “Kami sangat berterimakasih kepada YBM yang telah menjawab kesulitan kami dalam usaha pengembangan pondok pesantren, ini merupakan bantuan yang sangat kami nanti-nantikan”. Dalam sambutan yang sama Bpk. Yoris Rusamsi pun mengatakan bahwa dana yang diberikan untuk membantu warga Kalangsari adalah dana zakat yang dititipkan oleh Pekerja Muslim BRI Selindo untuk dapat dimanfaat oleh mereka yang membutuhkan.

YBM memberikan bantuan kepada warga Kalangsari karena daerah ini berada di pesisir pantai dan kesulitan untuk memperoleh air bersih. YBM membantu pesantren dalam pembuatan sarana sanitasi berupa sumur bor sedalam 50 meter, instalasi air dan bangunan penunjangnya.
Berkat bantuan YBM Pembina Ponpes Kalangsari mengucapkan rasa terimakasihnya. “Kami menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada YBM karena telah membantu ponpes dan santri, dimana santri disini sebagian besar berasal dari keluarga yang tidak mampu” ungkap H. Luthfi Husin (Pembina Ponpes Kalangsari) di sela acara.

Tahun 2014, YBM menjadikan pesantren sebagai pusat pemberdayaan dana zakatnya, sampai Maret 2014 ini, YBM sudah melakukan piloting di lima pesantren. Nantinya di setiap pesantren akan ada program beragam mulai dari beasiswa sampai pemberdayaan ekonomi pesantren, ini merupakan salah satu upaya YBM untuk memajukan pesantren.